08 August 2026

Kapan Harus Kuliah S1 Musik, S2 Musik, dan S3 Musik? Jangan Sampai Salah Tujuan

Kapan Harus Kuliah S1 Musik, S2 Musik, dan S3 Musik? Jangan Sampai Salah Tujuan


Banyak orang bertanya, kapan waktu yang tepat melanjutkan pendidikan akademik di bidang musik? Apakah setelah lulus SMA langsung mengambil S1 Musik? Apakah harus memiliki pengalaman kerja sebelum S2? Lalu, apakah semua orang perlu melanjutkan hingga S3?

06 August 2026

Identitas Sosial dalam Musik Berdasarkan Gender: Genre Maskulinitas VS Feminitas

Identitas Sosial dalam Musik Berdasarkan Gender: Genre Maskulinitas VS Feminitas


Musik sering kali dipandang sebagai bahasa universal. Namun, di balik setiap genre musik terdapat makna sosial yang memengaruhi cara masyarakat memandang identitas seseorang. Mengapa heavy metal sering dianggap maskulin?

05 August 2026

PUNK dalam Perspektif Psikologi Sosial: Bukan Sekadar Penampilan, tetapi Tindakan Sosial

PUNK dalam Perspektif Psikologi Sosial: Bukan Sekadar Penampilan, tetapi Tindakan Sosial


Selama bertahun-tahun, komunitas PUNK sering dipandang hanya dari penampilan luar. Rambut mohawk, jaket kulit penuh emblem, celana robek, hingga aksesori logam kerap menjadi simbol yang melekat.

04 August 2026

Neo-Colonialism dalam Pendidikan Musik Indonesia: Ketika Standar Asing Sering Dianggap Lebih Baik

Neo-Colonialism dalam Pendidikan Musik Indonesia: Ketika Standar Asing Sering Dianggap Lebih Baik


Ketika mendengar kata colonialism atau kolonialisme, kebanyakan orang langsung teringat pada penjajahan suatu negara oleh bangsa lain. Dalam praktiknya, kolonialisme merupakan bentuk penguasaan suatu wilayah melalui kekuatan politik, militer, dan ekonomi.

Retensi Mendengarkan Musik Semakin Menurun: Bahkan Kini Lagu Hanya Diingat Satu Frasa

Retensi Mendengarkan Musik Semakin Menurun: Bahkan Kini Lagu Hanya Diingat Satu Frasa


Perkembangan platform digital telah mengubah cara masyarakat menikmati musik. Jika dahulu pendengar mampu menghafal satu lagu dari awal hingga akhir, kini fenomenanya berbeda.

26 July 2026

Apresiasi Antar Musisi: Fondasi Ekosistem Musik yang Sehat dan Berkelanjutan

Apresiasi Antar Musisi: Fondasi Ekosistem Musik yang Sehat dan Berkelanjutan


Musik sering disebut sebagai bahasa universal. Namun, ironisnya, di balik panggung pertunjukan yang indah, tidak sedikit musisi justru terjebak dalam persaingan yang tidak sehat. Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar, tetapi juga di daerah. Persaingan harga, saling menjatuhkan reputasi, enggan berbagi kesempatan, hingga sulit memberikan apresiasi kepada karya rekan sendiri masih menjadi persoalan yang sering ditemui.

17 July 2026

Banyak Music Producer Gagal Membuat Jingle yang Efektif

Banyak Music Producer Gagal Membuat Jingle yang Efektif


Banyak music producer memiliki kemampuan membuat musik yang indah, harmonis, dan enak didengar. Namun ironisnya, ketika diminta membuat jingle untuk sebuah brand, hasilnya justru gagal mencapai tujuan bisnis klien. Lagu memang terdengar bagus, tetapi tidak mampu meningkatkan brand awareness, memperkuat positioning, bahkan tidak berdampak pada penjualan.

28 June 2026

Musisi Gen Z dan Alpha: Komputer Sebagai Instrumen Musik Pertamanya

Musisi Gen Z dan Alpha: Komputer Sebagai Instrumen Musik Pertamanya


Selama puluhan tahun, perjalanan seorang musisi hampir selalu dimulai dengan mempelajari alat musik konvensional seperti piano, gitar, biola, atau drum. Namun, perkembangan teknologi telah mengubah pola tersebut secara drastis. Bagi banyak musisi dari Generasi Z dan Generasi Alpha, komputer bukan lagi sekadar perangkat untuk mengetik atau bermain gim. Komputer telah menjadi instrumen musik pertama yang mereka kenal.

02 June 2026

Karya Musik AI dan AI Bubble 1 Dekade ke Depan: Akankah Musik Buatan Manusia Menjadi Lebih Berharga?

Karya Musik AI dan AI Bubble 1 Dekade ke Depan: Akankah Musik Buatan Manusia Menjadi Lebih Berharga?


Dalam dunia ekonomi dan investasi, bubble adalah kondisi ketika nilai suatu aset atau industri meningkat sangat tinggi jauh melampaui nilai fundamentalnya. Kenaikan tersebut biasanya didorong oleh euforia, spekulasi, dan harapan besar terhadap masa depan, hingga akhirnya pasar menyadari bahwa ekspektasi tersebut terlalu berlebihan. Ketika itu terjadi, harga atau valuasi akan mengalami koreksi besar yang dikenal sebagai bubble burst.

03 February 2026

Wacana Genre Baru “Timurnesia”: Representasi, Identitas, dan Potensi Polemik

Wacana Genre Baru “Timurnesia”: Representasi, Identitas, dan Potensi Polemik


Indonesia sejatinya sudah memiliki genre musik yang dapat disebut sebagai genre nasional, yakni dangdut. Genre ini mulai terbentuk secara jelas pada akhir 1960-an hingga awal 1970-an, berakar dari musik Melayu yang kemudian berasimilasi dengan unsur musik India, Arab, dan pop Barat. Nama “dangdut” sendiri diyakini berasal dari onomatope bunyi tabla atau gendang yang dominan dalam iramanya. Dalam perkembangannya, dangdut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi medium ekspresi sosial masyarakat, dengan tema lirik yang dekat dengan realitas hidup sehari-hari seperti cinta, ekonomi, hingga kritik sosial.

07 November 2025

Bedroom Music Producer adalah ‘Babi Ngepet’ Masa Kini

Bedroom Music Producer adalah ‘Babi Ngepet’ Masa Kini


Di era digital seperti sekarang, muncul satu profesi unik yang sering dianggap “misterius” oleh orang awam: bedroom music producer. Mereka adalah para pencipta lagu, beatmaker, dan mixing engineer yang bekerja diam-diam di kamar, hanya ditemani komputer, headphone, dan kopi sachet. Tapi kalau dipikir-pikir, ada kemiripan lucu antara bedroom music producer dan legenda urban babi ngepet yang dulu sempat viral di kampung-kampung. Coba deh kita bandingkan satu per satu.

27 August 2025

Fenomena Royalti Musik di Indonesia: Antara Pamor dan Hak Cipta

Fenomena Royalti Musik di Indonesia: Antara Pamor dan Hak Cipta



Royalti musik di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat. Perdebatan ini muncul bukan hanya di kalangan musisi senior, tetapi juga musisi baru yang tengah naik daun. Fenomena ini menarik untuk dicermati karena memperlihatkan dua wajah dunia musik: satu sisi membutuhkan eksistensi, sisi lain menuntut keadilan hak cipta.


11 July 2025

Konser Jazz yang Tak Lagi Jazz: Mengurai Polemik Festival Jazz di Indonesia

Konser Jazz yang Tak Lagi Jazz: Mengurai Polemik Festival Jazz di Indonesia


Beberapa waktu setelah gelaran Prambanan Jazz Festival 2025, jagat maya musik Indonesia kembali diramaikan oleh perdebatan klasik: "Masihkah ini layak disebut festival jazz?"

09 July 2025

Sound Horeg: Idealisme Audio Enthusiast dari Sudut Negeri

Sound Horeg: Idealisme Audio Enthusiast dari Sudut Negeri


Sound horeg adalah istilah populer untuk menyebut sistem audio berdaya besar yang biasa digunakan di acara hajatan, pasar malam, atau event desa. Dengan dentuman bass yang ekstrem dan tatanan speaker menjulang, fenomena ini berkembang pesat di daerah-daerah seperti Blitar, Tulungagung, dan sekitarnya.

04 June 2025

Memilih Tim Music Production: Kursi Kosong Lebih Baik daripada Kursi Berisi Orang yang Salah

Memilih Tim Music Production: Kursi Kosong Lebih Baik daripada Kursi Berisi Orang yang Salah


Dalam dunia bisnis kreatif, termasuk industri musik, kualitas tim sering kali lebih menentukan kesuksesan dibandingkan teknologi, modal, atau bahkan bakat individu. Salah satu prinsip menarik datang dari CEO NVIDIA, Jensen Huang, yang pernah mengatakan: "An empty chair is infinitely better than a chair filled by the wrong person."

16 May 2025

Meramal 10 Tahun Kedepan: Fase Kebosanan Manusia Terhadap "Estetika" Tiruan AI

Meramal 10 Tahun Kedepan: Fase Kebosanan Manusia Terhadap "Estetika" Tiruan AI


Beberapa tahun terakhir, dunia musik dikejutkan oleh kemunculan teknologi AI generatif seperti Suno dan Udio, dua platform AI yang mampu menciptakan musik hanya dengan input teks. Tak perlu kemampuan bermain alat musik, tak perlu pengetahuan teori musik mendalam, siapa pun kini bisa menjadi "komposer" instan. Fenomena ini mengaburkan batas antara pencipta dan penikmat, dan tentu saja mengundang decak kagum sekaligus kekhawatiran. Baca juga tulisan saya 11 tahun lalu Prediksi Masa Depan Kecerdasan Buatan Musik 10 Tahun Mendatang dari Anak Ingusan.

27 March 2025

Almarhum Slamet Abdul Sjukur Mengisi "Musik" pada Kolom Agama di KTPnya: Sebuah Opini Pribadi

Almarhum Slamet Abdul Sjukur Mengisi "Musik" pada Kolom Agama di KTPnya: Sebuah Opini Pribadi


Slamet Abdul Sjukur adalah seorang komponis dan pemikir musik Indonesia yang dikenal dengan gaya minimalisnya. Lahir pada 30 Juni 1935 di Surabaya, ia menempuh pendidikan musik di École Normale de Musique de Paris dan berguru pada Olivier Messiaen. Ia dikenal sebagai tokoh yang membawa konsep musik kontemporer ke Indonesia dan pernah menjadi dosen di berbagai institusi, termasuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Foto dari KapanLagi.com

19 November 2024

6 Passive Income Musisi Versi Saya

6 Passive Income Musisi Versi Saya

Pengen punya penghasilan pasif sambil ngejar passion musik? Tenang aja, ada banyak cara buat kamu, anak musik, buat dapet passive income di era digital ini. Passive income tuh kayak punya mesin uang yang terus jalan, meskipun kamu lagi tidur atau sibuk bikin lagu. Yuk, bahas yang kekinian dan konkret, biar kamu bisa langsung mulai!


1. Jual Beat atau Sound Pack di Marketplace Online

Buat kamu yang jago bikin beat atau sound design, ini wajib banget dicoba. Marketplace seperti Beatstars, Splice, atau Loopmasters jadi tempat yang pas buat jual karya-karyamu. Bukan cuma beat, kamu juga bisa jual sound pack unik untuk musisi atau kreator konten.

Contoh:

  • Bikin pack drum loops yang cocok untuk genre chill atau trap.
  • Rilis sample pack suara alam yang sering dipakai buat backsound konten meditasi.

Tiap ada yang download atau beli, kamu langsung dapet penghasilan. Dan enaknya, satu karya bisa dijual ke banyak orang! Per tahunnya saya bisa ngantongin 8 sampai 10 juta rupiah.


2. Bikin e-Course atau Kelas Musik Online

Kursus online lagi booming banget, termasuk di bidang musik. Kamu bisa bikin e-course tentang hal yang kamu kuasai, seperti music production, bikin beat, atau belajar alat musik tertentu.

Contoh:

  • Kelas “Belajar FL Studio untuk Pemula” yang ngajarin cara bikin beat pertama sampai export lagu.
  • Tutorial “Cara Cepat Main Gitar Akustik” buat pemula yang suka lagu-lagu pop.

Setelah course selesai, upload ke platform kayak Fisella Music Academy. Promosiin lewat media sosial, dan tiap ada yang daftar, kamu langsung dapet penghasilan. Saya pernah dapetin Rp 40 jutaan dalam 4 bulan saat pandemi karena e-course.


3. Monetisasi Blog Musik + Adsense + Safelink

Kalau kamu suka nulis, coba bangun blog tentang musik. Kamu bisa nulis artikel tentang tips belajar musik, ulasan alat musik, atau tutorial produksi lagu. Pas blog kamu udah banyak pengunjung, daftarin ke Google Adsense untuk dapet penghasilan dari iklan.

Yang lebih keren lagi, kamu bisa pakai safelink buat menghasilkan tambahan. Misalnya, kamu bikin artikel tentang “Cara Membuat Lagu Lo-Fi di FL Studio.” Di dalamnya, tambahkan link download sample pack gratis yang diarahkan ke safelink. Tiap orang yang klik dan lewat safelink itu, kamu dapet penghasilan tambahan.

Contoh konten:

  • “5 Plugin Gratis untuk Mixing Musik” dengan link download yang pakai safelink.
  • Artikel “Panduan Belajar Musik dari Nol” dengan iklan Adsense di sidebar blog.
Nggak banyak sih dari sini, setahun paling cuma 1 juta rupiahan, lumayan buat beli cilok setahun.

4. Distribusi Musik ke Platform Streaming Digital

Karya musikmu wajib masuk ke Spotify, Apple Music, atau YouTube Music. Ini cara klasik tapi efektif buat passive income. Tiap kali lagumu diputar, kamu dapet royalti. Tapi yang lebih kekinian, coba fokus ke relaxation music.

Relaxation music seperti musik meditasi atau tidur makin banyak dicari orang. Kamu bisa bikin lagu dengan tema seperti ambient sound, suara alam, atau lo-fi beats buat fokus belajar.

Contoh:

  • Bikin album “Meditation Sounds for Focus” dan upload ke Spotify.
  • Promosiin lagu-lagu relaksasimu di YouTube sebagai background music untuk belajar atau yoga.

Tiap ada yang putar atau gunakan, penghasilan bakal terus ngalir! Tapi karena saya nggak fokus di performing dapetnya nggak banyak, cuma ratusan ribu doang per tahunnya.


5. Jual Preset atau Template DAW

Kalau kamu jago bikin preset atau template di DAW seperti FL Studio atau Ableton, ini peluang besar! Banyak musisi pemula yang nyari preset siap pakai buat mempercepat workflow mereka.

Contoh:

  • Jual preset suara gitar yang cocok buat genre pop atau rock di marketplace seperti Gumroad.
  • Bikin template mixing siap pakai buat lo-fi atau EDM.
Ini jauh lebih mahal sekali laku, per tahun kira-kira sama kayak jualan beat.

6. Sistem Subscription via Patreon atau Ko-fi

Kalau kamu punya banyak penggemar loyal, coba bikin akun di Patreon atau Ko-fi. Kamu bisa kasih konten eksklusif seperti lagu baru, behind-the-scenes produksi lagu, atau mentoring musik.

Contoh:

  • Paket subscription seharga Rp 50.000 per bulan untuk akses video tutorial mixing.
  • Tier premium dengan hadiah seperti shoutout atau konsultasi musik privat.
Sebelumnya saya pernah pakai platform tersebut tapi sekarang malah pindah ke Whatsapp Community dan lumayan per bulannya bisa dapetin 1 jutaan, tapi ini nggak totaly passive income ya, tapi nggak sepenuhnya active juga sih.

Era digital bikin anak musik punya banyak cara buat dapet passive income, mulai dari jual beat, bikin e-course, nulis blog musik, sampai bikin relaxation music. Yang penting, konsisten berkarya dan manfaatkan platform digital dengan maksimal.

Beli Instrumen Musik Duluan atau Bisa Main Musik Dulu Baru Beli Instrumen?

Beli Instrumen Musik Duluan atau Bisa Main Musik Dulu Baru Beli Instrumen?

Pernah nggak sih, kamu nanya ke diri sendiri: “Aku harus bisa dulu main musik baru beli instrumen, atau beli dulu baru belajar?” Pertanyaan ini sering banget muncul, terutama buat yang baru mau mulai perjalanan musiknya. Kalau diibaratkan, ini kayak mau mancing ikan: “Harus beli pancingan dulu atau nunggu dapet ikan baru beli pancingan?” Jawabannya, yuk kita bahas bareng-bareng.


Beli Dulu, Baru Belajar

Buat kamu yang semangat banget belajar musik, beli instrumen dulu bisa jadi langkah awal yang bikin motivasi makin tinggi. Ibaratnya nih, kalau mau mancing, ya beli pancingan dulu. Masa mau mancing ikan pakai tangan kosong? Dengan punya instrumen di tangan, kamu bisa langsung praktek kapan aja, nggak perlu ribet pinjam-pinjam.

Kelebihannya:

  • Konsisten belajar: Instrumen udah ada, jadi kamu nggak punya alasan buat malas-malasan.
  • Rasa kepemilikan: Punya alat sendiri tuh beda banget rasanya, kamu bakal lebih hati-hati dan rajin ngerawat.
  • Investasi jangka panjang: Walaupun awalnya belajar, alat ini tetap bisa dipakai bahkan saat kamu udah pro.

Tapi ya, ada minusnya juga. Kalau kamu masih ragu serius atau nggak, bisa-bisa instrumen ini malah jadi pajangan di pojokan. Uang yang keluar juga lumayan, apalagi kalau kamu beli alat berkualitas tinggi dari awal.


Bisa Dulu, Baru Beli

Nah, ada juga yang mikir, “Ngapain beli kalau belum tentu aku suka?” Pendekatan ini cocok buat kamu yang masih coba-coba. Biasanya, kamu bisa pinjam instrumen dari teman, sewa, atau belajar di tempat kursus yang udah menyediakan alatnya.

Kalau pakai analogi mancing, ini kayak nyewa pancingan dulu buat nyoba. Kalau ternyata kamu suka dan berhasil dapet ikan, baru deh beli pancingan sendiri.

Kelebihannya:

  • Hemat biaya di awal: Kamu nggak perlu keluar uang banyak buat beli alat.
  • Fleksibel: Kalau ternyata kamu nggak cocok, tinggal berhenti tanpa rugi besar.
  • Lebih tahu kebutuhan: Setelah mencoba, kamu jadi lebih paham alat apa yang sebenarnya pas buat kamu.

Kekurangannya, ya kamu mungkin nggak bisa latihan kapan aja karena alatnya bukan punya sendiri. Dan kalau harus sewa terus-menerus, biaya sewa bisa lebih mahal dibanding beli instrumen baru.


Jadi, Mana yang Lebih Baik?

Semua balik lagi ke kebutuhan dan kondisi kamu. Kalau kamu punya budget cukup dan yakin mau serius, beli instrumen dulu adalah pilihan terbaik. Tapi kalau masih ragu, coba belajar dulu dengan alat pinjaman atau sewa.

Sama seperti mancing, ada orang yang beli pancingan dulu supaya siap kapan aja. Tapi ada juga yang coba pakai pancingan teman buat lihat cocok nggak sama hobinya.


Tips Memilih Instrumen Pertama

Kalau udah mantap beli, pastikan pilih alat yang sesuai dengan kebutuhan. Nggak perlu mahal, yang penting nyaman dan cukup buat belajar. Misalnya, mau belajar gitar, kamu bisa mulai dari gitar akustik standar. Kalau mau coba digital piano, pilih yang fitur dasarnya lengkap tapi tetap ramah di kantong.


Kesimpulannya?
Nggak ada cara yang benar atau salah, yang penting kamu nikmati proses belajarnya. Musik itu soal perjalanan, bukan cuma hasil akhir. Jadi, apapun pilihanmu, pastikan itu yang bikin kamu happy!

25 May 2024

Belajar Tangga Nada pada Gitar Harusnya Tidak Mengikuti Konsep dari Piano

Belajar Tangga Nada pada Gitar Harusnya Tidak Mengikuti Konsep dari Piano

Belajar Tangga Nada pada Gitar Harusnya Tidak Mengikuti Konsep dari Piano

Gitar, dengan keunikannya, memang memiliki pendekatan tersendiri dalam mempelajari tangga nada. Namun, paradigma yang telah berkembang selama ini dalam pembelajaran gitar tidak sepenuhnya sesuai dengan karakteristik alat itu sendiri. Terutama, penggunaan konsep tangga nada ala piano dalam mengajar gitar telah menjadi kebiasaan yang terlalu lazim. Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa guru gitar dan buku gitar harus mengubah pendekatan mereka dalam mengajarkan tangga nada, dan bagaimana konsep the CAGED System muncul sebagai alternatif yang lebih sesuai dan efektif.