Banyak orang bertanya, kapan waktu yang tepat melanjutkan pendidikan akademik di bidang musik? Apakah setelah lulus SMA langsung mengambil S1 Musik? Apakah harus memiliki pengalaman kerja sebelum S2? Lalu, apakah semua orang perlu melanjutkan hingga S3?
Ini adalah artikel opini saya, yang mungkinsubyektif namun dapat memberikan cakrawala baru bagi rekan-rekan yang ingin melanjutkan studi musik di perguruan tinggi. Menurut saya, jenjang pendidikan akademik bukan sekadar urusan gelar. Setiap tingkat memiliki tujuan berpikir yang berbeda. Jika salah memilih waktu, proses belajar justru terasa berat karena ekspektasi tidak sesuai dengan kompetensi yang sedang dibangun.
S1 Musik: Belajar Banyak Metode untuk Diterapkan
Menurut saya, S1 Musik adalah fase membangun fondasi keilmuan. Di jenjang ini, mahasiswa akan diperkenalkan dengan berbagai teori, metode pembelajaran, pendekatan pedagogi, teknik bermain musik, analisis karya, hingga dasar penelitian.
Tujuan utamanya bukan menemukan teori baru, melainkan memahami sebanyak mungkin pendekatan yang nantinya bisa diterapkan di dunia nyata.
Sebagai contoh di bidang pendidikan musik, mahasiswa S1 mungkin mempelajari berbagai metode seperti pembelajaran berbasis proyek, cooperative learning, pembelajaran individual, hingga penggunaan media digital dalam kelas musik. Semua pendekatan tersebut menjadi bekal ketika nantinya mengajar di sekolah, membuka kursus musik, atau menjadi pelatih komunitas musik.
Sederhananya, S1 menjawab pertanyaan:
"Bagaimana cara mengajar atau berkarya dengan berbagai pendekatan yang sudah ada?"
S2 Musik: Berangkat dari Masalah Nyata
Berbeda dengan S1, S2 Musik sebaiknya ditempuh ketika seseorang benar-benar memiliki masalah yang ingin diselesaikan.
Mengapa?
Karena masalah selalu bersifat dinamis, berubah mengikuti perkembangan teknologi, budaya, perilaku peserta didik, hingga kebutuhan industri musik. Tidak semua masalah memiliki solusi yang sama.
Misalnya dalam pendidikan musik, seorang pemilik kursus mungkin menemukan bahwa siswa kelas online memiliki tingkat penyelesaian materi lebih rendah dibanding kelas tatap muka. Atau mentor merasa pembelajaran sinkron saja tidak cukup meningkatkan kompetensi peserta.
Masalah seperti inilah yang layak diteliti pada jenjang S2. Fokusnya bukan lagi mempelajari semua metode, melainkan memilih, mengembangkan, atau mengombinasikan metode yang paling sesuai dengan persoalan tersebut.
S2 pada akhirnya menjawab pertanyaan:
"Bagaimana solusi terbaik untuk masalah yang sedang saya hadapi?"
S3 Musik: Menciptakan Formulasi Baru
Jika S2 berfokus pada penyelesaian masalah, maka S3 Musik melangkah lebih jauh, yaitu menghasilkan formulasi, model, atau teori baru yang dapat menjadi kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Sebagai contoh di bidang edukasi musik, seseorang mungkin menemukan bahwa pendekatan pembelajaran yang ada belum mampu menjawab kebutuhan pembelajaran music production di era digital. Dari penelitian panjang, lahirlah sebuah kerangka pedagogi baru yang mengintegrasikan mentor, pembelajaran mandiri, dan teknologi digital dalam satu ekosistem pembelajaran.
Kontribusi seperti inilah yang menjadi ciri penelitian doktoral.
S3 menjawab pertanyaan:
"Apa kontribusi baru yang dapat saya berikan bagi dunia pendidikan musik?"
Mengapa Contohnya Saya Batasi pada Edukasi Musik?
Saya sengaja menggunakan contoh di bidang edukasi musik karena itulah dunia yang saya jalani setiap hari. Saat ini saya bekerja sebagai owner Fisella, sebuah kursus musik home visit sekaligus penyelenggara kelas online music production. Pengalaman tersebut membuat saya lebih memahami tantangan pembelajaran musik dibandingkan bidang lain.
Tentu prinsip yang saya sampaikan dapat diterapkan pada disiplin ilmu lain, tetapi contoh yang saya berikan berasal dari pengalaman profesional agar lebih konkret dan relevan.
Pada akhirnya, tidak ada jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau lebih hebat. Yang terpenting adalah kesesuaian antara tujuan belajar dengan tahap perkembangan karier Anda. Jika ingin menguasai berbagai pendekatan, mulailah dari S1. Jika sudah memiliki persoalan nyata yang ingin dipecahkan, pertimbangkan S2. Dan jika ingin memberikan kontribusi baru bagi ilmu pengetahuan, barulah melangkah ke S3.
Idealistic & Satire Parts of Me: Bekerjalah Sesuai Tingkatan Pendidikanmu
Saya sadar, pandangan ini mungkin tidak disukai semua orang. Banyak yang mengatakan, "Yang penting bisa kerja. Lulusan apa pun bisa mengerjakan pekerjaan apa pun." Saya menghormati pendapat itu. Namun, saya orang yang cukup idealis.
Bagi saya, pendidikan bukan sekadar formalitas untuk mendapatkan gelar, melainkan investasi kemampuan berpikir. Kalau setelah menempuh S2 atau S3 kita masih mengerjakan pekerjaan yang kompleksitasnya sama dengan lulusan S1, saya justru bertanya, untuk apa menghabiskan waktu bertahun-tahun menambah kapasitas berpikir?
Tentu bukan berarti lulusan S1 itu rendah. Sama sekali bukan. Justru saya menganggap S1 memiliki kompetensi yang sangat penting: menguasai ilmu dan menerapkannya di lapangan. Mereka adalah pelaksana profesional yang mampu menjalankan berbagai metode yang telah terbukti.
Namun ketika seseorang memilih melanjutkan ke S2, menurut saya ada konsekuensi logis. Ia seharusnya tidak berhenti menjadi pelaksana. Ia harus mulai menjadi problem solver. Ia hadir untuk menjawab persoalan yang belum selesai.
Lalu bagaimana dengan S3?
Menurut pandangan saya, lulusan doktor seharusnya tidak lagi sibuk menyelesaikan masalah yang bisa diselesaikan dengan pendekatan yang sudah ada. Mereka justru ditantang menciptakan formulasi baru, model baru, atau cara pandang baru terhadap suatu bidang ilmu.
Kalau dianalogikan, S1 menggunakan peta, S2 memperbaiki rute ketika peta tidak lagi efektif, sedangkan S3 menggambar peta yang benar-benar baru.
Di sinilah sisi idealis saya muncul.
Agak lucu ketika melihat seseorang bangga menyelesaikan pendidikan doktor, tetapi masih menghabiskan energi untuk pekerjaan yang sebenarnya sudah bisa diselesaikan dengan kompetensi sarjana. Rasanya seperti membeli komputer super dengan prosesor paling kencang hanya untuk mengetik di Notepad. Bisa? Tentu bisa. Sayang? Menurut saya, sangat sayang.
Satire lain yang sering terlintas di kepala saya begini: kalau semua pekerjaan akhirnya sama saja, mengapa universitas masih membedakan jenjang S1, S2, dan S3? Bukankah cukup satu gelar saja? Tentu kenyataannya tidak sesederhana itu. Setiap jenjang dibangun dengan capaian pembelajaran yang berbeda.