18 August 2026

Pak, Anakmu S2, Tapi Maaf Jurusannya Seni

Pak, aku tahu dulu Bapak ingin aku punya masa depan yang aman. Aku ingat benar saat masih duduk di bangku SMA jurusan IPA.


Nilai cukup bagus, suka berpikir kritis, bahkan sebelum lulus aku sudah mendapatkan beasiswa untuk kuliah di salah satu kampus swasta kaum borjuis di Semarang. Lalu suatu hari aku bilang di atas motor: “Aku mau kuliah Musik.” Bapak tentu bertanya: “Untuk apa? Memangnya ada masa depannya?” Keluarga besar juga berpikir begitu. Anak IPA, nilai bagus, sudah dapat beasiswa Teknik Informatika, kok malah masuk Seni? Bapak sebenarnya realistis. Dengan pengalaman hidupnya, Bapak ingin anaknya menjadi ahli di bidang eksak. Mungkin Bapak membayangkan aku akan menjadi orang yang serius di bidang sains, teknologi, matematika, atau bidang lain yang menurut Bapak memiliki masa depan lebih jelas. Jujur, umur 17 tahun waktu itu aku juga sempat ragu, sehingga kuputuskan mengambil beasiswa Tek


Pernah Tidak Sekolah

Tapi perjalanan hidup ini agak luar biasa. Aku dulu adalah anak pengungsi korban politik Timor Leste. Sekolah saja bukan sesuatu yang bisa aku anggap pasti. Aku bahkan pernah dua bulan tertahan di camp pengungsian tanpa kabar yang jelas mengenai kelanjutan hidupku tanpa sekolah. Dalam kondisi seperti itu, mungkin masa depan memang tidak pernah benar-benar pasti.

Singkat cerita, aku bisa melanjutkan studi hingga menyelesaikan S1 Teknik Informatika di Universitas Dian Nuswantoro Semarang dengan program beasiswa penuh dari perusahaan tambang di Inggris dan menyelesaikannya di 2015. Tentunya, Tuhan Yesus turut bekerja. Boleh statusku rendah karena mantan anak pengungsi. Masalahnya, ambisiku terlampau besar. Keinginan melanjutkan studi seni masih besar walau sudah lulus S1 dan bekerja.


Dari Teknik Informatika ke Musik

Setelah menyelesaikan Teknik Informatika di tahun 2015 dan bekerja 2 tahun di perusahaan pembiayaan di Jakarta melalui Management Development Program, aku kuliah S1 lagi yang kedua. Kali ini S1 Musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Hampir 50 persen biaya pendidikanku terbantu oleh kampus dan program mahasiswa wirausaha. Kalau dipikir-pikir, mungkin perjalanan ini memang tidak sesuai dengan rencana Bapak. Dari IPA cocok banget ke Teknik Informatika dan jadi egineer. Tahu-tahu ke Musik dan lulus pada 2022. Dan sekarang...

Mantan Anak Pengungsi Ini Sedang Kuliah S2

Lucunya, mantan anak pengungsi ini sekarang sedang menjalani S2 Pendidikan Seni di Universitas Negeri Yogyakarta. Pak, mungkin kampusku tidak semegah UGM, UI, atau Undip, kampus tempat Bapak berkuliah. Tapi aku bangga. Karena seorang anak pengungsi ternyata bisa sampai di titik ini. Pak, sekarang aku bahkan membangun Fisella®, brand edukasi dan industri musik yang menafkahi diriku, istriku, dan anakku. Guru-guru dari kalangan mahasiswa di Fisella® juga mendapatkan dampaknya. Bahkan sesekali aku bisa mengirim uang kepada Bapak dan Ibu dari keringatku bekerja di musik. Mungkin memang bukan jalan yang Bapak bayangkan. Tetapi ternyata jalan ini juga bisa membawa anakmu sampai sejauh ini.


Setelah 15 Tahun, Aku Ingin Menjawab Pertanyaan Bapak

Setelah 15 tahun, aku ingin menjawab pertanyaan Bapak: “Kuliah Musik mau jadi apa?”,  “Kalau musik nggak laku lagi bagaimana?”, Loh, ini pertanyaan filsafat banget, Pak. Ilmu yang juga Bapak ajarkan kepadaku untuk memahami dunia. Dan dari semua pertanyaan itu, ada satu pertanyaanmu yang paling menarik: “Mungkinkah musikmu tidak laku?”


Mungkinkah Musikku Tidak Laku?

Jawabannya: Mungkin. Satu genre bisa tenggelam. Penyanyi bisa tidak laku. Model bisnis bisa bangkrut. Teknologi bisa berubah. Bahkan profesi tertentu di industri beberapa sudah hilang. Tetapi apakah musik secara keseluruhan akan tidak laku? Berapa persennya? Aku tidak tahu.

Dan siapa pun yang memberikan angka pasti seperti 1 persen, 5 persen, atau 10 persen sebenarnya sedang mengarang, karena belum ada penelitian yang bisa menghitung secara pasti kemungkinan manusia berhenti membutuhkan musik, kalaupun ada aku tidak peduli. Yang lebih masuk akal adalah:

Kapanpun cara menghasilkan uang dari musik bisa berubah, dan ini berlaku di semua industri. Tetapi kebutuhan manusia terhadap musik sepertinya sulit untuk hilang. Musik selalu ada dalam pendidikan, film, game, iklan, ibadah, pernikahan, media sosial, sampai kamar orang yang sedang patah hati. Bagaimana bisa musikku nggak laku? Berbekal ilmu filsafat yang bapak ajarkan, aku ingat kata dosen filsafatku Dr. Sukatmi Susantina. Thales filsuf yang kaya raya karena kecerdasan astronominya mampu melihat peluang bisnis, harusnya sedikit saja ilmu Thales yang aku punya, aku tetap bisa hidup dan melihat peluang.


Pertanyaannya Bukan Lagi “Musikku Akan Laku atau Tidak?”

Jadi, Pak, mungkin pertanyaannya bukan lagi: “Bagaimana kalau musik tidak laku?” Tetapi: “Bagaimana caraku beradaptasi kalau cara menghasilkan uang dengan musik  berubah?” Nah, kalau itu terjadi, sebagai manusia aku akan beradaptasi.


Kalau Dunia Berubah, Aku Ikut Berubah

Teknologi berubah, aku belajar. Industri berubah, aku beradaptasi. Musik berubah, aku aku ubah arahku. Dan tulisan ini aku posting saat sedang mengikuti PKKMB S2 di Universitas Negeri Yogyakarta. Lucu juga kalau dipikir-pikir. Dulu, umur 17 tahun, aku diminta memikirkan masa depan karena memilih Musik dan aku takut banget. Sekarang, bertahun-tahun kemudian, aku memilih berjuan di jalur musik, dan duduk mengikuti orientasi sebagai mahasiswa S2 Pendidikan Seni.


Jadi, Pak...

Anakmu lanjut S2. Tapi maaf, jurusannya Seni. Maaf kampusnya tidak sekeren kampus Bapak. Tapi sampai hari ini, aku tidak menyesal. Sebelum orang-orang menyepelekan aku di jalur musik, bapak adalah orang pertama yang tidak percaya kalau aku akan hidup dari musik. Kalau suatu hari musik berubah, aku akan belajar terus. Kalau industrinya berubah, aku akan beradaptasi. Dan kalau cara mencari uang dari musik berubah, ya tinggal cari cara baru. Bukankah itu juga bagian dari ilmu yang Bapak ajarkan kepadaku? Laboratorium filsafat adalah kehidupan. Bagaimana memahami dunia. Mungkin dulu Bapak ingin aku punya masa depan yang aman. Sekarang aku mengerti. Bapak sebenarnya tidak sedang memaksaku menjadi ahli eksak. Bapak hanya ingin memastikan anakmu bisa hidup. Dan ternyata, Pak... Anakmu memilih Musik. walau berangkatnya dari Teknologi. Membangun bisnis. Menjadi pendidik dan melanjutkan S2. Masa depan memang tidak pernah bisa dijamin. Tetapi mungkin yang bisa kita lakukan adalah terus mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jadi, Pak... Anakmu lanjut S2. Tapi maaf, jurusannya Seni.