07 September 2026

Metode Penelitian Seni: Sebuah Perpektif dari Prof. Dr. Zulfi Hendri, S.Pd., M.Sn.


Ada perspektif baru yang saya temukan saat berkuliah di S2 Pendidikan Seni Universitas Negeri Yogyakarta tahun 2026. Dalam proses perkuliahan, saya berkesempatan mendapatkan perspektif dari Prof. Dr. Zulfi Hendri, S.Pd., M.Sn., Guru Besar Bidang Kurikulum Pembelajaran Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta, mengenai bagaimana seni dapat dipahami melalui penelitian.


Walaupun beliau berlatar belakang Seni Rupa, perspektif dan referensinya sangat tajam untuk mengkaji seni lainnya, terutama musik, bidang ilmu yang sedang saya dalami. Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah cara berpikir penelitian seni yang ternyata tidak langsung dimulai dari metode, instrumen, atau pengumpulan data, tetapi dari pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa sebenarnya hakikat objek seni yang sedang kita teliti?


Penelitian Seni Dimulai dari Ontologi

Dalam memahami penelitian seni, saya menangkap bahwa cara berpikirnya dapat dimulai dari ontologi, kemudian bergerak menuju epistemologi, dan akhirnya sampai pada aksiologi.

Secara sederhana, ontologi mempertanyakan apa yang ada dan apa hakikat sesuatu. Epistemologi mempertanyakan bagaimana kita mengetahui sesuatu dan bagaimana pengetahuan tersebut dapat dibenarkan. Sementara aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan tersebut digunakan dan nilai apa yang terkandung di dalamnya.

Menariknya, perspektif ini terasa cukup berbeda dari gagasan yang pernah saya baca dan ulas sebelumnya dari Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih dalam tulisan Filsafat Pendidikan Musik: Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi.

Perbedaan tersebut bukan berarti keduanya harus dipertentangkan. Justru bagi saya, perbedaan cara mengurutkan atau memasuki persoalan filsafat menunjukkan bahwa filsafat ilmu dapat digunakan dari berbagai titik berangkat, tergantung persoalan yang sedang dikaji.

Dalam perspektif penelitian seni yang saya tangkap dari Prof. Zulfi, pertanyaan ontologis menjadi penting karena sebelum menentukan bagaimana sesuatu diteliti, kita perlu memahami terlebih dahulu apa sebenarnya objek penelitian tersebut.


Dari Ontologi Menuju Epistemologi

Setelah memahami apa yang menjadi objek penelitian, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana kita dapat mengetahui objek tersebut?

Jika yang diteliti adalah kemampuan mixing audio, misalnya, apakah pengetahuan diperoleh melalui pengukuran frekuensi, loudness, dynamic range, analisis spektrum, penilaian ahli, pengalaman pendengar, atau kombinasi semuanya?

Pilihan tersebut bukan sekadar persoalan teknis. Ia berangkat dari cara peneliti memahami objeknya.

Karena itu, metode penelitian sebenarnya tidak berdiri sendiri. Di belakang metode terdapat asumsi filosofis mengenai realitas dan pengetahuan.


Setelah Itu Baru Aksiologi

Setelah mengetahui apa yang diteliti dan bagaimana pengetahuan tentangnya diperoleh, muncul pertanyaan berikutnya: untuk apa pengetahuan tersebut?

Inilah wilayah aksiologi.

Dalam penelitian musik, misalnya, penelitian tentang metode pembelajaran tertentu bukan hanya berhenti pada kesimpulan bahwa metode tersebut efektif. Peneliti juga dapat bertanya: efektif untuk siapa? Digunakan untuk tujuan apa? Apakah metode tersebut memberikan manfaat bagi peserta didik?

Dengan demikian, penelitian seni tidak hanya mengejar kebenaran, tetapi juga mempertimbangkan nilai dan manfaat pengetahuan yang dihasilkan.


Seni, Ilmu Pengetahuan, dan Pencarian Kebenaran

Teori dan hipotesis selalu diuji secara empiris melalui konsep yang terkendali. Seni juga dapat belajar dari ilmu pengetahuan alam dalam usaha membuka berbagai rahasia realitas.

Penemuan dalam ilmu pengetahuan terkadang terjadi secara kebetulan. Namun dalam seni, kebetulan tersebut dapat menjadi sesuatu yang sengaja dicari kembali. Seniman dapat mengulangi, mengembangkan, dan mengeksplorasi kejadian artistik yang sebelumnya ditemukan secara tidak sengaja.

Di sinilah penelitian seni menjadi unik. Seniman tidak hanya menghasilkan karya, tetapi dapat mencari kemungkinan-kemungkinan baru secara sadar melalui pikiran kritis.


Novelty: Menemukan Sesuatu yang Sebelumnya Belum Ada

Penelitian seni kemudian berhadapan dengan persoalan novelty atau kebaruan.

Ketidaksengajaan dalam proses artistik dapat menghasilkan estetika. Sementara sesuatu yang dapat dijelaskan secara rasional dapat menghasilkan pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Seniman bahkan terkadang harus membayangkan dan meyakini sesuatu yang belum ada sebelum sesuatu tersebut dapat diwujudkan.

Dalam konteks tertentu, manusia dapat diibaratkan sebagai tangan-tangan Tuhan, sedangkan alam merupakan lukisan Tuhan yang belum selesai. Belum selesai bukan berarti tidak sempurna.

Bagi penelitian seni, ruang yang belum selesai tersebut justru dapat menjadi ruang munculnya novelty.


Seni sebagai Objek yang Harus Diragukan

Penelitian juga tidak seharusnya dimulai dari keyakinan bahwa sesuatu pasti benar.

Objek penelitian harus dapat diragukan, dipertanyakan, dan diperiksa kembali. Pemikiran René Descartes tentang keraguan dapat menjadi titik berangkat: sesuatu yang selama ini dianggap benar tetap dapat diuji kembali.

Dalam musik, misalnya, teori tentang pembelajaran, komposisi, harmoni, performa, bahkan asumsi mengenai cara manusia memahami musik dapat diteliti kembali.

Keraguan bukan berarti menolak pengetahuan lama. Keraguan justru membuka kemungkinan munculnya pengetahuan baru.


Tiga Perspektif tentang Kebenaran

Lalu bagaimana menentukan bahwa pengetahuan baru tersebut benar?

Salah satunya melalui teori koherensi, yaitu ketika suatu pernyataan konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah diterima sebagai benar. Gagasan Charles Sanders Peirce tentang penelitian yang saling berkaitan juga menunjukkan bahwa pengetahuan tidak berdiri sendiri.

Ada pula teori korespondensi, yaitu kebenaran dipahami sebagai kesesuaian antara pernyataan dan kenyataan.

Sementara dalam pragmatisme, kebenaran dapat dilihat dari keberlakuannya dalam praktik. Pengetahuan diuji melalui fungsi dan konsekuensinya di lapangan.

Ketiga cara tersebut dapat membantu penelitian seni melihat kebenaran dari berbagai sisi.


Apakah Penelitian Seni Bisa Seilmiah Penelitian Kesehatan?

Saya kemudian bertanya kepada Prof. Zulfi mengenai perbandingan penelitian seni dengan bidang kesehatan. Apakah penelitian seni dapat dibandingkan dengan penelitian kesehatan yang memiliki basis data sangat besar dan prosedur pengukuran yang ketat?

Pertanyaan tersebut muncul karena masyarakat masih sering meragukan apakah penelitian seni benar-benar ilmiah. Bahkan akademisi seni sendiri terkadang ragu ketika seni dikaji menggunakan pendekatan yang sangat terukur, misalnya hubungan antara musik dan matematika.

Jawaban Prof. Zulfi menurut saya memberikan analogi yang sangat kuat: dokter adalah ilmiah, sedangkan dukun dianggap tidak ilmiah. Namun persoalannya bukan semata-mata karena dukun tidak memiliki pengetahuan, melainkan karena pengetahuan tersebut belum banyak dikaji, didokumentasikan, dan disusun dalam sistem data yang sistematis.

Analogi tersebut dapat diterapkan pada seni.

Mungkin selama ini masyarakat berpikir bahwa seniman hanya menghasilkan produk artistik. Padahal, seniman juga dapat menghasilkan pengetahuan. Bedanya, pengetahuan artistik tersebut belum selalu diteliti dan dirumuskan secara sistematis.


Seniman Tidak Hanya Menghasilkan Karya

Dari pembahasan tersebut, saya melihat bahwa penelitian seni memiliki wilayah yang sangat luas.

Seniman dapat menjadi pengamat, perumus masalah, pelaku eksperimen, penguji gagasan, sekaligus penghasil pengetahuan.

Musik dapat dikaji melalui estetika, pedagogi, psikologi, matematika, teknologi, akustik, maupun ilmu sosial. Ketika proses tersebut dilakukan secara sistematis dengan metode yang tepat dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, penelitian seni tidak kehilangan sifat seninya.

Justru di situlah kekuatannya.

Seni dapat menghasilkan karya, tetapi seni juga dapat menghasilkan pengetahuan. Dan ketika pengetahuan tersebut diteliti secara kritis, sistematis, serta dapat dipertanggungjawabkan, maka penelitian seni memiliki sisi ilmiah yang tidak kalah menarik dari bidang keilmuan lainnya.