30 August 2025

Filsafat Pendidikan dan Aplikasinya dalam Pendidikan Musik: Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi


Filsafat pendidikan selalu menjadi landasan penting dalam memahami arah, tujuan, dan makna dari sebuah sistem pendidikan. Ia bukan hanya berbicara tentang bagaimana mengajar, tetapi juga menggali pertanyaan paling mendasar: apa pengetahuan itu? untuk apa pengetahuan digunakan? dan apa hakikat dari pengetahuan itu sendiri? Artikel ini mencoba mengulas filsafat pendidikan berdasarkan buku Filsafat Pendidikan yang ditulis oleh Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih, S.S., M.Hum, guru besar Filsafat Pendidikan Universitas Gajah Mada, kemudian menginterpretasikan ulasan tersebut dengan menambahkan perspektif aplikasi dalam pendidikan musik.



Apa Itu Filsafat?

Secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philosophiaPhilo berarti cinta, sedangkan sophia berarti kebijaksanaan. Maka, filsafat secara sederhana dapat dimaknai sebagai cinta akan kebijaksanaan. Filsafat tidak berhenti pada teori, tetapi juga merupakan proses berpikir kritis, reflektif, dan sistematis untuk memahami realitas hidup.



Apa Itu Pendidikan?

Pendidikan secara etimologis berasal dari kata Latin educare yang berarti "mengeluarkan" atau "mengarahkan keluar". Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi manusia, baik intelektual, moral, maupun keterampilan hidupnya. Dalam filsafat pendidikan, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai transfer ilmu, tetapi juga sebagai proses memanusiakan manusia.



Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi dalam Filsafat

Epistemologi

Epistemologi berasal dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (ilmu). Secara sederhana, epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang teori pengetahuan: apa itu pengetahuan, dari mana asalnya, bagaimana cara memperolehnya, dan apa batasannya.


Ontologi

Ontologi berasal dari kata Yunani ontos (ada/being) dan logos (ilmu). Ia adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakikat keberadaan atau realitas. Ontologi sering dimasukkan dalam ranah filsafat metafisika, karena mencoba menjawab pertanyaan paling fundamental: apa yang benar-benar ada? apa hakikat sesuatu itu?


Aksiologi

Aksiologi berasal dari bahasa Yunani axios (nilai) dan logos (ilmu). Cabang filsafat ini membahas tentang nilai, baik nilai moral, estetika, maupun fungsi dari sebuah pengetahuan. Aksiologi menjawab pertanyaan: untuk apa pengetahuan digunakan? apakah membawa manfaat atau justru merusak?



Landasan Filsafat Pendidikan Menurut Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih

Dalam buku "Filsafat Pendidikan", Prof. Dr. Rr. Siti Murtiningsih menguraikan pentingnya melihat pendidikan dari tiga cabang filsafat utama: epistemologi, aksiologi, dan ontologi.


Epistemologi dalam Pendidikan

Pertanyaan yang diajukan adalah: “apa saja pengetahuan yang digunakan dalam pendidikan?”. Dalam konteks pendidikan, pengetahuan bisa berupa teori belajar, metode pengajaran, kurikulum, hingga hasil penelitian yang mendukung praktik pendidikan.


Aksiologi dalam Pendidikan

Pertanyaan yang diajukan: “untuk apa pengetahuan tersebut digunakan?”. Pendidikan tidak netral. Pengetahuan dapat digunakan untuk meningkatkan kecerdasan, menciptakan inovasi, bahkan membentuk karakter. Namun, bisa juga disalahgunakan untuk kepentingan tertentu yang justru merugikan manusia.


Ontologi dalam Pendidikan

Pertanyaan yang muncul setelah aksiologi: “jika pengetahuan digunakan untuk hal negatif, apa hakikat manfaatnya?”. Ontologi mengajak kita untuk menimbang ulang esensi dari sebuah pengetahuan. Misalnya, meskipun pengetahuan teknologi bisa disalahgunakan, ontologi mempertanyakan keberadaannya: apakah masih ada manfaat esensial dari pengetahuan tersebut yang bisa digunakan untuk kebaikan?


Alur Berpikir Filosofis Pendidikan: Interpretasi Saya

Dalam buku Prof. Siti Murtiningsih, alur berpikir tidak dijelaskan secara eksplisit. Namun, menurut interpretasi saya, ada dua alur penting:

Membangun konsep filosofis pendidikan

  • Diawali dengan pertanyaan epistemologi → kemudian aksiologi → diakhiri dengan ontologi.

  • Urutan ini relevan karena ketika kita membangun konsep pendidikan, pertama kita harus tahu apa pengetahuannya, lalu digunakan untuk apa, dan akhirnya mempertimbangkan hakikatnya.

Menganalisis sebuah filosofi pendidikan

  • Diawali dengan ontologi → lalu aksiologi → diakhiri dengan epistemologi.

  • Analisis selalu dimulai dari pertanyaan tentang hakikat terlebih dahulu, kemudian tujuan penggunaannya, dan terakhir pada sumber pengetahuan yang digunakan.



Aplikasi Filsafat Pendidikan dalam Pendidikan Musik

Filsafat pendidikan tidak hanya berhenti di ruang kelas formal, tetapi bisa diterapkan dalam bidang spesifik seperti pendidikan musik. Berikut contoh penerapannya dalam membangun konsep filosofis musik:

1. Epistemologi Pendidikan Musik

Pertanyaan epistemologis: “apa saja pengetahuan musik yang dibutuhkan untuk pendidikan musik?”

Jawabannya sangat luas. Beberapa di antaranya:

  • Teori musik (skala, harmoni, progresi akor).

  • Solfegio (latihan pendengaran dan membaca notasi).

  • Pengetahuan teknologi musik (rekaman, mixing, mastering).

  • Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan royalti (pengetahuan yang relevan di era industri musik).

Dengan epistemologi, kita tahu bahwa pendidikan musik bukan hanya belajar memainkan instrumen, tetapi juga mencakup pengetahuan modern yang mendukung karier musisi.


2. Aksiologi Pendidikan Musik

Pertanyaan aksiologis: “untuk apa pengetahuan musik tersebut digunakan?”

  • Teori musik dan solfegio → pengetahuan fundamental, membantu musisi menguasai dasar-dasar bermusik, sehingga cenderung positif.

  • Pengetahuan HAKI dan royalti → bisa membawa dua sisi. Di satu sisi, penting agar musisi tahu hak mereka. Namun di sisi lain, bisa menimbulkan kesan negatif karena musik seolah menjadi alat kapitalisasi. Misalnya, kasus Mie Gacoan yang digugat royalti oleh LMK sempat menimbulkan pro-kontra.

Aksiologi menilai bahwa setiap pengetahuan dalam pendidikan musik membawa nilai tertentu yang harus diwaspadai.


3. Ontologi Pendidikan Musik

Pertanyaan ontologis: “jika pengetahuan HAKI dan royalti dianggap merusak (misalnya hanya menekankan uang), maka apa hakikat manfaatnya?”

Jawabannya: pengetahuan tersebut tetap memiliki nilai esensial. Dengan memahami HAKI dan royalti, calon musisi tahu cara menjaga karyanya, memperoleh penghargaan finansial yang layak, dan memastikan keberlanjutan karier mereka. Sehingga, meskipun ada kesan negatif, hakikat keberadaannya tetap penting demi masa depan musisi.