Diera distribusi musik digital, sebuah karya musik tidak lagi hanya berhadapan dengan pendengar. Sebelum sampai ke telinga manusia, lagu dapat melewati sistem rekomendasi platform digital atau Digital Service Provider (DSP) seperti Spotify, Apple Music, YouTube Music, dan platform streaming lainnya.
Kondisi ini memunculkan kebutuhan terhadap sebuah terminologi baru: algorithm-friendly music. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menyebut karya musik yang memiliki karakteristik atau data perilaku yang memungkinkan karya tersebut lebih mudah ditemukan, dipahami, atau direkomendasikan oleh sistem algoritmik pada DSP.
Istilah ini bukan berarti lagu dibuat semata-mata untuk menyenangkan algoritma. Justru, terminologi ini dapat membantu membicarakan fenomena baru dalam ekosistem musik digital secara lebih spesifik.
Apa Itu Terminologi?
Terminologi adalah kumpulan istilah khusus yang digunakan dalam bidang atau konteks tertentu untuk menjelaskan suatu konsep secara lebih tepat.
Dalam perkembangan teknologi digital, muncul berbagai istilah yang membantu manusia menjelaskan hubungan antara karya, pengguna, dan sistem teknologi.
Kita mengenal istilah SEO-friendly dalam dunia konten digital. Sebuah artikel disebut SEO-friendly ketika struktur dan isinya dirancang agar lebih mudah ditemukan, dibaca, dan dipahami oleh mesin pencari.
Dalam layanan pemetaan digital, kita juga mengenal konsep yang dapat disebut geo-friendly, yaitu bagaimana suatu informasi atau lokasi dapat dipahami dan ditemukan berdasarkan konteks geografis dan sistem pemetaan.
Musik digital memiliki persoalan yang serupa, tetapi dengan mekanisme yang berbeda.
Sebuah lagu tidak hanya perlu tersedia di DSP. Lagu tersebut juga perlu ditemukan.
Mengapa Musik Membutuhkan Istilah Algorithm-Friendly?
DSP modern tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menyimpan dan memutar musik. Platform juga menggunakan sistem rekomendasi untuk membantu pengguna menemukan musik berdasarkan berbagai sinyal, seperti riwayat mendengarkan, interaksi pengguna, karakteristik musik, popularitas, dan pola perilaku pendengar.
Akibatnya, terdapat perbedaan antara musik yang tersedia di platform dan musik yang memiliki peluang untuk direkomendasikan kepada pengguna tertentu. Di sinilah konsep music discoverability menjadi penting.
Jika SEO membahas bagaimana konten dapat ditemukan melalui mesin pencari, maka algorithm-friendly music dapat menjadi istilah untuk membahas bagaimana karya musik berada dalam ekosistem yang memungkinkan algoritma DSP menghubungkannya dengan pendengar yang relevan.
Dengan demikian, istilah ini tidak harus dimaknai sebagai “musik yang disukai algoritma”. Yang lebih tepat adalah musik yang dapat terbaca dan terhubung dalam sistem rekomendasi algoritmik.
Bukan Berarti Musisi Harus Membuat Lagu untuk Algoritma
Penggunaan istilah algorithm-friendly juga perlu dibedakan dari anggapan bahwa musisi harus mengorbankan nilai artistik demi algoritma.
Sebuah lagu tetap merupakan karya artistik. Namun, ketika karya tersebut masuk ke dalam platform digital, ia juga menjadi bagian dari sistem informasi yang memiliki metadata, kategori, perilaku pendengar, dan pola distribusi. Dengan demikian, musisi menghadapi dua persoalan sekaligus: bagaimana membuat karya yang bermakna secara musikal dan bagaimana membuat karya tersebut dapat ditemukan dalam lingkungan digital. Justru karena persoalan ini semakin nyata, terminologi baru diperlukan.
Dari SEO-Friendly ke Algorithm-Friendly
Perbandingan dengan SEO membantu menjelaskan gagasan tersebut. Artikel digital memiliki persoalan searchability. Musik digital memiliki persoalan discoverability. Artikel dapat dioptimalkan agar mesin pencari memahami topiknya. Musik juga berada dalam sistem yang mengolah berbagai informasi untuk menentukan rekomendasi kepada pengguna.
Karena itu, algorithm-friendly music dapat diajukan sebagai terminologi untuk membicarakan karakteristik musik dalam ekosistem rekomendasi DSP. Istilah ini bukan sekadar jargon baru. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk membahas perubahan hubungan antara karya musik, algoritma, platform, dan pendengar.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya apakah sebuah lagu bagus. Pertanyaan baru dalam ekosistem musik digital adalah: “Bagaimana sebuah lagu ditemukan?” Dan mungkin, di masa ketika jutaan lagu tersedia dalam satu platform, kemampuan sebuah karya untuk ditemukan akan menjadi persoalan yang sama pentingnya dengan kemampuan karya tersebut untuk didengarkan.