25 August 2026

Trivium & Quadrivium, Sebuah Pertanyaan: Apakah Musik Sesungguhnya Ilmu Eksak?

Ketika kita berbicara tentang pendidikan liberal arts klasik, ada satu pembahasan tentang fakta sejarah yang menarik untuk saya renungkan. Musik pernah ditempatkan sejajar dengan aritmetika, geometri, dan astronomi.


Hari ini, gagasan tersebut terdengar asing. Di Indonesia musik umumnya dipahami sebagai seni, budaya, atau bagian dari rumpun ilmu humaniora. Namun dalam tradisi pendidikan Barat klasik, berangkat dari Yunani Kuno dan Abad Pertengahan, musik justru masuk dalam dimensi Quadrivium, empat disiplin yang berhubungan erat dengan matematika dan struktur alam semesta. Bagi saya, di sinilah muncul dorongan dan pertanyaan menarik: mengapa musik yang dahulu dipelajari sebagai ilmu eksak, kini lebih sering ditempatkan sebagai ilmu seni?


Mengenal Trivium dan Quadrivium?

Dalam tujuh liberal arts klasik, ilmu pengetahuan dibagi menjadi dua kelompok.

Trivium terdiri atas:

  1. Grammar: tata bahasa
  2. Rhetoric: retorika
  3. Logic/Dialectic: logika atau dialektika


Sementara Quadrivium terdiri atas:

  1. Arithmetic: aritmetika
  2. Geometry: geometri
  3. Astronomy: astronomi
  4. Music: musik


Pembagian ini bukan sekadar daftar mata pelajaran. Dalam tradisi intelektual Abad Pertengahan, tujuh disiplin tersebut menjadi dasar pendidikan sebelum seorang intelektual memasuki ranah filsafat dan bidang pengetahuan yang lebih tinggi. Metropolitan Museum of Art juga mencatat bahwa liberal arts dikembangkan dari tradisi Yunani kuno dan kemudian menjadi bagian penting pendidikan abad pertengahan dan Renaisans.


Bagaimana Bisa Musik Masuk dalam Quadrivium?

Inilah bagian yang paling menarik. Musik dalam Quadrivium bukan terutama belajar memainkan alat musik atau menciptakan lagu. Musik dipelajari sebagai ilmu mengenai rasio, proporsi, bilangan, interval, dan harmoni.


Pada tradisi Pythagorean menjadi salah satu fondasinya hubungan musikal dapat dijelaskan melalui hubungan numerik. Bahkan karya Anicius Manlius Severinus Boëthius dikenal sebagai St. Severinus Boethius tentang aritmetika dan musik kemudian sangat berpengaruh terhadap cara Abad Pertengahan memahami Quadrivium. Stanford Encyclopedia of Philosophy mencatat bahwa aritmetika, geometri, musik, dan astronomi dipandang sebagai empat ilmu yang membentuk dasar pendidikan abad pertengahan. Stanford Encyclopedia bahkan menjelaskan bahwa musik dikategorikan sebagai artes reales, kelompok disiplin yang mempelajari struktur matematis dan fisik realitas bersama aritmetika, geometri, dan astronomi.

Jadi, secara historis, musik bukan penyusup di antara ilmu-ilmu eksak. Musik memang sengaja ditempatkan di sana.


Hubungan Musik dan Matematika

Di artikel saya sebelumnya "Music is Not Math!" Kesalahan dalam Teori Musik yang Jarang Disadari - Part 1 - PETER DE VRIES GUITAR sekali lagi tidak ingin menyatakan bahwa musik adalah matematika, namun memiliki hubungan yang erat, terutama dalam dimensi Quardrivium. Hubungan musik dan matematika bukan sekadar filosofi kuno. Interval musik dapat direpresentasikan melalui rasio dan/atau frekuensi. Dalam phytagorean tuning, oktaf memiliki rasio 2:1, sedangkan interval lain dapat dijelaskan menggunakan hubungan rasio-rasio pasti. Inilah alasan musik dapat dipelajari sebagai objek eksak.

Bahkan tradisi intelektual Islam abad pertengahan juga mempertahankan hubungan tersebut. Al-Farabi, sosok besar dalam ilmu musik di timur tengah misalnya, memasukkan musik ke dalam kelompok ilmu matematika bersama aritmetika, geometri dan astronomi. Dengan kata lain, anggapan bahwa musik memiliki dimensi matematis bukanlah penemuan modern karena komputer atau AI. Akarnya jauh lebih tua.


Lalu Mengapa Musik Sekarang Disebut Seni?

Di sinilah kritik saya dimulai. Dalam sistem pendidikan Indonesia modern, musik secara institusional ditempatkan dalam wilayah seni dan humaniora. Keputusan mengenai nama program studi, misalnya, menempatkan Musik di bawah Rumpun Ilmu Humaniora, bersama berbagai bidang seni lainnya.

Artinya, ketika seseorang mengatakan dirinya belajar musik, sistem akademik kita cenderung memahami musik sebagai bagian dari ilmu seni. Memang tidak ada yang salah dengan itu.

Musik memang berhubungan dengan budaya, sejarah, identitas, estetika, masyarakat, ekspresi, dan pengalaman manusia. Tetapi masalahnya muncul ketika klasifikasi tersebut seolah-olah menjadi batas epistemologis: musik dianggap seni adalah sisi primernya, sehingga sisi eksaknya menjadi sekunder.


Musik Tidak Boleh Hanya Menjadi Ilmu Humaniora

Saya justru ingin mempertanyakan pembatasan tersebut. Jika musik memiliki struktur matematis, dapat dimodelkan secara formal, bahkan dapat dianalisis menggunakan teori bilangan, frekuensi, statistik, akustik, sinyal, algoritma, bahkan komputasi, lalu mengapa musik harus dipahami hanya melalui perspektif seni saja? Tentu, ini bukan berarti musik harus "dipindahkan" dari ilmu humaniora ke ilmu eksak. Yang saya persoalkan adalah cara kita mendefinisikan objek musik. Satu objek dapat memiliki banyak cara untuk diteliti.

Sejarah musik dapat menjadi humaniora.
Makna musik dapat menjadi kajian budaya.
Pengalaman mendengarkan musik dapat menjadi psikologi.
Akustik musik dapat menjadi fisika.
Analisis musik dapat menjadi matematika.
Komputasi musik dapat menjadi ilmu komputer.

Objeknya sama. Pendekatan ilmiahnya berbeda.


Kritik terhadap Pendidikan Musik di Indonesia

Di sinilah saya melihat sesuatu yang menarik dalam pendidikan Indonesia. Kita telah berhasil mengakui musik sebagai seni dan bagian dari humaniora. Tetapi kita belum cukup berani membicarakan musik sebagai objek penelitian eksak. Padahal sejarah Quadrivium menunjukkan bahwa gagasan tersebut bukan sesuatu yang aneh.

Bahkan Thomas Aquinas menjelaskan bahwa tujuh liberal arts merupakan semacam jalan awal bagi pikiran untuk memasuki filsafat, dengan Quadrivium berkaitan dengan matematika. Jadi, mungkin persoalannya bukan musik tidak memiliki sifat eksak. Mungkin cara kita mengklasifikasikan musiklah yang terlalu sempit.


Saya Memilih Sisi yang Berbeda

Saya memilih menjadi pribadi yang berada di sisi oposisi dari arus utama pendidikan musik di Indonesia. Saya jatuh cinta kepada musik justru ketika menyadari bahwa musik dapat menjadi objek penelitian eksak.

Frekuensi.
Rasio.
Interval.
Gelombang.
Spektrum.
Sinyal.
Algoritma.
Komputasi.

Semakin saya mempelajari musik dan teknologi, semakin saya merasa bahwa musik bukan hanya sesuatu yang indah untuk didengar, tetapi juga sesuatu yang menarik untuk dihitung, dimodelkan, dianalisis, dan dipahami secara ilmiah. Mungkin inilah alasan saya mencintai musik dan teknologinya.


Kembali ke Quadrivium

Ketika kita merasa sedang membawa teknologi baru ke dalam musik, sejarah justru mengingatkan kita bahwa hubungan musik dengan ilmu eksak sudah sangat tua. Musik pernah menjadi bagian dari Quadrivium. Bukan karena orang-orang pada masa itu menganggap musik kurang artistik, tetapi karena mereka melihat bahwa di balik bunyi terdapat angka, proporsi, keteraturan, dan struktur.


Maka bagi saya, mempertanyakan kembali posisi musik bukan berarti merendahkan seni. Seni tetap agung dengan segala keindahannya. Sebaliknya, justru gagasan ini mengajak kita untuk memperluas cara pandang objek musik. Musik boleh menjadi seni. Musik juga boleh menjadi budaya. Musik boleh menjadi humaniora. Tetapi musik juga layak dipandang sebagai objek ilmu yang dapat diteliti secara matematis, komputasional, dan eksak.

Dan mungkin, di tengah perkembangan music technology, music information, audio engineering, computational musicology, dan artificial intelligence, kita sedang menyaksikan kembalinya sebuah gagasan lama dalam bentuk yang baru, dimana musik bukan hanya sesuatu yang kita rasakan. Musik juga sesuatu yang dapat kita hitung.