Dalam dunia musikologi, tidak sedikit orang yang piawai menganalisis, mengomentari, bahkan mengkritik praktik bermusik orang lain. Mereka mampu menjelaskan kelemahan teknik seorang pemain, kekurangan struktur komposisi, hingga ketidaktepatan metode pengajaran musik. Namun, ketika dihadapkan pada persoalan serupa dalam praktik mereka sendiri, kemampuan tersebut seolah menghilang.
Fenomena ini dapat dipahami melalui The Solomon Paradox, yaitu kecenderungan seseorang memberikan penalaran yang lebih bijaksana ketika menghadapi masalah orang lain dibandingkan ketika menghadapi masalahnya sendiri.
Istilah ini merujuk pada kisah Raja Solomon yang dikenal bijaksana dalam memberikan keputusan bagi orang lain. Ironisnya, kebijaksanaan dalam menilai persoalan eksternal tidak selalu menjamin kemampuan seseorang mengelola persoalan pribadinya.
Dalam konteks musikologi, paradoks ini menarik untuk dibicarakan, terutama ketika pengetahuan teoretis dan kemampuan mengevaluasi orang lain tidak sejalan dengan kecakapan menghadapi persoalan nyata.
Musikolog Muda dan Budaya Mengkritik Musisi Lain
Musikologi memberikan perangkat intelektual untuk memahami musik secara historis, estetis, filosofis, dan analitis. Pengetahuan ini tentu penting. Kritik musik dapat membantu musisi memperbaiki teknik pertunjukan, mengembangkan komposisi, dan meningkatkan kualitas pengajaran.
Masalah muncul ketika pengetahuan tersebut berhenti sebagai alat untuk menghakimi praktik orang lain.
Seorang musikolog muda mungkin dengan mudah menyarankan pemain gitar memperbaiki artikulasi, mengkritik komposer karena dianggap kurang inovatif, atau menyalahkan pengajar musik karena menggunakan pendekatan yang tidak sesuai dengan teori pedagogi tertentu.
Namun, ketika harus tampil di panggung, menciptakan komposisi yang memenuhi standar kritiknya sendiri, atau mengajar murid dengan kebutuhan yang beragam, hasilnya belum tentu seideal komentarnya.
Tentu, tidak semua musikolog mengalami hal ini. Mengkritik dan mempraktikkan musik memang membutuhkan kompetensi yang berbeda. Persoalannya bukan terletak pada perbedaan kompetensi tersebut, melainkan pada sikap merasa paling tahu tanpa kesediaan menguji pengetahuan melalui praktik.
Mengapa Paradoks Ini Terjadi?
Salah satu penjelasannya adalah jarak psikologis. Ketika menilai masalah orang lain, seseorang dapat mengambil jarak dan melihat situasi secara lebih abstrak. Sebaliknya, ketika menghadapi masalah sendiri, emosi, kepentingan pribadi, ego, dan ketakutan terhadap kegagalan dapat mengganggu penalaran.
Dalam penelitian psikologi, Igor Grossmann dan Ethan Kross (2014) menunjukkan bahwa pengambilan perspektif orang ketiga dapat membantu seseorang menalar persoalan pribadinya secara lebih bijaksana. Temuan ini relevan untuk memahami mengapa nasihat yang terdengar masuk akal bagi orang lain belum tentu mudah diterapkan pada diri sendiri.
Dalam lingkungan akademik musik, persoalan ini juga dapat diperburuk oleh budaya yang terlalu menghargai kecakapan berbicara, istilah teoretis, dan kemampuan membedah kelemahan orang lain, tetapi kurang memberikan ruang bagi evaluasi diri melalui pengalaman nyata.
Akibatnya, kritik berubah menjadi pertunjukan intelektual, bukan sarana untuk memperbaiki praktik bermusik.
Solusi: Menghubungkan Kritik dengan Praktik Musik
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasi paradoks tersebut.
Pertama, menerapkan kritik pada diri sendiri. Sebelum mengomentari teknik pertunjukan orang lain, seorang musikolog dapat mengevaluasi rekaman permainannya sendiri. Sebelum mengkritik komposisi, ia dapat menciptakan karya dan membuka diri terhadap penilaian yang sama. Sebelum menilai metode pengajaran, ia dapat menguji pendekatannya pada situasi pembelajaran nyata.
Kedua, membangun budaya kritik yang dialogis. Kritik seharusnya disertai argumentasi, bukti, dan alternatif yang masuk akal. Kritik tidak harus selalu menghasilkan solusi instan, tetapi perlu mengakui keterbatasan pengetahuan dan kompleksitas praktik musik.
Ketiga, mempertemukan teori dan pengalaman. Pendidikan musik perlu menyediakan ruang bagi refleksi, praktik, eksperimen, kolaborasi, serta evaluasi sejawat. Musikolog tidak harus menjadi virtuoso, komposer hebat, atau pengajar terbaik. Namun, ia perlu memahami batas kompetensinya dan tidak menyamakan kemampuan menganalisis dengan kemampuan melakukan.
Keempat, membiasakan refleksi sebelum menghakimi. Pertanyaan sederhana seperti, "Apakah saya mampu menerapkan standar yang saya tuntut dari orang lain?" dapat menjadi awal untuk mengembangkan kerendahan hati intelektual.
Musikolog Bukan Sekadar Pengamat, tetapi Mitra Pertumbuhan Musisi
Kritik merupakan bagian penting dari perkembangan musik. Tanpa kritik, praktik bermusik dapat kehilangan kesempatan untuk berkembang. Namun, kritik kehilangan nilai ketika digunakan untuk membangun superioritas intelektual, bukan memperluas pemahaman.
Musikolog muda tidak harus menguasai semua bidang musik. Spesialisasi justru penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Akan tetapi, spesialisasi perlu disertai kesadaran bahwa setiap praktik memiliki kompleksitas yang tidak selalu terlihat dari luar.
Pada akhirnya, kualitas seorang musikolog bukan hanya diukur dari seberapa tajam ia menemukan kesalahan musisi lain, tetapi juga dari seberapa jujur ia memahami keterbatasan pengetahuannya sendiri.
Sebab, memahami mengapa orang lain gagal adalah satu hal. Berani menghadapi kemungkinan kegagalan diri sendiri adalah hal yang berbeda.
Dan di antara keduanya, terdapat ruang penting bagi kebijaksanaan yang sesungguhnya.