Kritikus musik sering sekali mendapat penilaian negatif dari para praktisi musik. Kritikus kerap dianggap sebagai orang yang cuma bisa komentar, mengkritik, atau ngomong doang, tanpa benar-benar menghasilkan karya musik. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: kalau kritikus tidak menciptakan musik, lalu apa pentingnya ada kritikus musik?
Pertanyaan tersebut sebenarnya tidak hanya relevan dalam musik. Dalam berbagai bidang kreatif lainnya, posisi kritikus justru memiliki fungsi penting. Salah satu contohnya dapat dilihat dalam dunia kuliner.
Kritikus Kuliner dan Prestasi Sebuah Restoran
Dalam industri kuliner, kritik terhadap restoran nampaknya sudah cukup lumrah dan dapat memberikan dampak besar. Penilaian positif dapat membantu meningkatkan reputasi dan branding sebuah restoran. Sebaliknya, penilaian negatif tidak selalu berarti restoran tersebut harus dianggap buruk. Kritik dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui bagian mana yang menyebabkan pengalaman pelanggan tidak sesuai dengan ekspektasi. Apakah persoalannya berada pada rasa makanan? Harga? Pelayanan? Tim? Konsistensi produk? Atau justru operation restoran secara keseluruhan?
Fenomena semacam ini juga dapat ditemukan dalam dunia restoran kelas atas, termasuk bagaimana pengakuan seperti Michelin Guide ikut membentuk persepsi publik terhadap sebuah restoran. Kritik dan penilaian menjadi salah satu cara untuk melihat sebuah karya dari perspektif di luar pembuatnya.
Apa Peran Kritikus Musik?
Hal yang sama seharusnya terjadi dalam kritik musik. Kritikus musik bukan sekadar orang yang mengatakan sebuah lagu bagus atau jelek. Salah satu fungsi penting kritikus adalah membuka perspektif baru bagi praktisi musik. Seorang musisi dapat sangat memahami apa yang sedang ia kerjakan, tetapi bukan berarti ia selalu mampu melihat dirinya sendiri dari perspektif pendengar. Di sinilah kritikus dapat mengambil posisi yang berbeda.
Misalnya, seorang pemain memiliki gestur tertentu ketika memainkan instrumen. Kritikus kemudian mengamati bahwa gestur tersebut memiliki kemiripan dengan karakter permainan musisi lain. Pernyataan semacam ini mungkin terasa tidak nyaman bagi praktisi profesional. Seorang musisi tentu tidak ingin karakter permainannya dianggap sekadar menyerupai orang lain. Namun justru di titik tersebut kritik dapat menjadi pemicu introspeksi.
Apakah gestur tersebut memang merupakan bagian dari identitas musikal yang sengaja dipertahankan? Atau sebenarnya muncul tanpa disadari karena pengaruh musisi yang dikagumi? Apakah perlu mempertahankan gestur tersebut atau justru mencari bentuk ekspresi yang lebih personal? Kritikus tidak harus memberikan jawabannya. Tugasnya dapat berupa menghadirkan pertanyaan yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh praktisi.
Kalau Mengkritik Jangan Berhenti di Kursi Sebelah Saja
Sayangnya lagi, ada persoalan lain yang cukup menarik. Banyak sekali lulusan sarjana musik yang kemampuan kritiknya justru berhenti pada kritik verbal kepada teman yang duduk di sebelah kursinya. Dalam istilah Jawa, mungkin lebih dekat dengan rasan-rasan. Selesai menonton pertunjukan, kemudian membicarakan pemainnya. Membahas tekniknya, gesturnya, interpretasinya, pilihan repertoarnya, bahkan mungkin penampilannya. Semua dibicarakan dengan sangat kritis. Tetapi setelah percakapan selesai, kritik tersebut ikut selesai.
Kalau memang kaum intelektual, sebaiknya kritik tidak berhenti sebagai percakapan informal. Bisa saja kritik tersebut ditulis dan minimal dipublikasikan menjadi artikel populer, banyak kok platform yang mau menerima gagasanmu, bukankah justru menjadi lebih wangun, kata orang Jogja?
Bukan hanya karena terlihat lebih serius, tetapi karena gagasan tersebut menjadi terdokumentasi dan dapat dibaca orang lain. Kritik yang awalnya hanya menjadi percakapan antarteman dapat berubah menjadi wacana yang bisa ditanggapi, diperdebatkan, bahkan dikembangkan.
Di sinilah pendidikan musik sebenarnya memiliki peluang besar. Lulusan musik tidak harus semuanya menjadi performer, komposer, pengajar, atau peneliti. Sebagian dapat mengambil posisi sebagai pengamat dan kritikus yang ikut membangun ekosistem intelektual musik.
Kritik Musik sebagai Ruang Introspeksi
Dengan demikian, posisi kritikus musik bukan berada di atas praktisi, tetapi berada pada posisi pengamatan yang berbeda. Praktisi menciptakan dan memainkan musik, sementara kritikus membaca, menginterpretasikan, mempertanyakan, dan memberikan perspektif terhadap praktik tersebut.
Sayangnya, dalam pendidikan tinggi, mata kuliah kritik musik sering kali berhenti sebagai tugas akademik. Mahasiswa diminta menulis kritik terhadap sebuah pertunjukan, mengumpulkannya, mendapatkan nilai, kemudian selesai.
Padahal, kritik musik dapat memiliki fungsi yang jauh lebih besar. Kritik dapat menjadi tradisi intelektual yang mempertemukan praktik musik dengan refleksi.
Pada akhirnya, kritikus musik bukan sekadar orang yang “cuma bisa ngomong”. Justru kemampuan untuk mengamati, membaca, mempertanyakan, dan merumuskan sesuatu secara argumentatif adalah bagian dari ekosistem musik.
Masalahnya mungkin bukan apakah kritikus bisa bermusik atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kritik yang kita miliki berhenti sebagai rasan-rasan, atau mampu berubah menjadi pengetahuan yang bisa dibaca, diperdebatkan, dan memberi perspektif baru bagi perkembangan musik?
Apakah Kritik Musik Masih Relevan?
Kritik musik tetap relevan karena praktisi musik sebagai orang pertama sering kali terlalu dekat dengan karya yang ia ciptakan atau mainkan. Ia mengalami proses, niat, dan keputusan musikal dari dalam, sehingga tidak selalu dapat merasakan bagaimana karyanya diterima dari luar.
Di sinilah kritikus memiliki posisi penting: membuka perspektif yang mungkin tidak dapat dirasakan sendiri oleh praktisi. Kritikus dapat melihat pola, karakter, atau persoalan tertentu yang luput dari kesadaran musisi.
Dengan demikian, kritik bukan sekadar menilai karya, tetapi menjadi cermin dari sudut pandang orang lain yang dapat membantu praktisi melihat dan memahami musiknya dengan cara yang berbeda.