Ada sebuah pertanyaan sederhana yang mungkin terdengar sedikit mengganggu: jika kuliah tidak memberikan gelar, apakah masih banyak orang yang mau berkuliah?
Mari kita berandai-andai. Bayangkan semua perguruan tinggi sepakat bahwa mahasiswa yang mengikuti perkuliahan selama empat tahun, membaca buku, mengerjakan tugas, mengikuti ujian, melakukan penelitian, dan menyelesaikan skripsi, setelah dinyatakan lulus, tidak mendapat gelar akademik di depan atau belakang namanya. Tentunya, para lulusan tetap mendapatkan cara berpikir rasional yang sistematis dan kritis, pengetahuan empiris, juga koneksi. Kemungkinan besar, brosur penerimaan mahasiswa baru akan mendadak menjadi jauh lebih sepi.
Bukan karena masyarakat tidak menghargai ilmu. Hanya saja, dalam kehidupan nyata, ilmu sering kali ingin ditemani sesuatu yang lebih mudah dikenali oleh dunia luar: gelar akademik sebagai legitimasi sosial.
Gelar dan Gengsi Pendidikan Tinggi
Gelar memiliki fungsi yang cukup jelas. Ia menunjukkan bahwa seseorang telah menyelesaikan jenjang pendidikan tertentu. Dalam dunia kerja, gelar juga masih menjadi salah satu persyaratan administratif untuk berbagai profesi dan posisi.
Namun, gelar ternyata memiliki kehidupan sosial yang lebih panjang daripada sekadar administrasi. Ada kebanggaan ketika seseorang pertama kali menulis “S.” di belakang namanya. Ada kebahagiaan ketika orang tua melihat anaknya mengenakan toga. Ada pula kepuasan ketika masyarakat mengetahui bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan sarjana, magister, atau doktor.
Dengan kata lain, kuliah bukan hanya tentang memperoleh pengetahuan, namun soal status sosial yang ikut diperoleh dalam perjalanan tersebut. Dan hampir semua manusia, cukup menyukai status.
Ketika Gelar Tidak Lagi Menjamin Apa-Apa
Masalahnya muncul ketika gelar dianggap sebagai tiket otomatis menuju pekerjaan dan kehidupan yang lebih baik. Realitas ternyata tidak sesederhana itu. Seseorang bisa menyelesaikan kuliah dengan nilai baik, mendapatkan gelar, berfoto saat wisuda, lalu beberapa bulan berikutnya masih harus mengirimkan lamaran ke berbagai perusahaan.
Di titik ini, muncul ironi pendidikan tinggi modern: gelar semakin penting, tetapi gelar saja semakin tidak cukup. Dunia kerja membutuhkan keterampilan, pengalaman, kemampuan berkomunikasi, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, dan berbagai kompetensi lainnya. Sementara itu, perguruan tinggi tetap menjadi tempat yang sangat identik dengan pencapaian akademik formal. Maka tidak mengherankan jika mahasiswa mengejar dua hal sekaligus: ilmu untuk dirinya sendiri dan gelar untuk meyakinkan orang lain.
Kalau Tidak Ada Gelar, Apa yang Tersisa?
Pertanyaan ini justru menarik. Jika gelar dihilangkan, seseorang akan dipaksa melihat kembali alasan sebenarnya mengapa ia datang ke perguruan tinggi. Apakah karena ingin belajar? Apakah karena membutuhkan kompetensi? Apakah karena ingin mendapatkan lingkungan akademik? Atau karena empat tahun kuliah dianggap sebagai investasi untuk mendapatkan selembar bukti yang kelak membuka pintu pekerjaan? Tidak ada jawaban yang sepenuhnya salah. Pendidikan memang memiliki banyak fungsi.
Namun, jika sebagian besar orang tidak lagi tertarik berkuliah hanya karena tidak ada gelar, mungkin kita perlu melakukan introspeksi terhadap pendidikan tinggi itu sendiri. Sebab perguruan tinggi yang benar-benar bernilai seharusnya tidak hanya mampu mengatakan, “Kami memberikan gelar.” Ia juga harus mampu menjawab pertanyaan yang jauh lebih penting: “Apa yang benar-benar berubah dalam diri seseorang setelah ia belajar di sini?”
Gelar Bukan Tujuan Akhir
Pada akhirnya, gelar tetap penting. Ia memiliki fungsi akademik, profesional, administratif, bahkan sosial. Tetapi gelar seharusnya menjadi hasil dari pendidikan, bukan satu-satunya alasan untuk mendapatkan pendidikan. Sebab jika seseorang hanya membawa pulang gelar tanpa kemampuan, pendidikan telah kehilangan sebagian maknanya. Sebaliknya, seseorang yang memperoleh kemampuan tanpa gelar pun bisa menghadapi persoalan ketika dunia membutuhkan bukti formal.
Mungkin karena itulah pendidikan tinggi berada dalam posisi yang agak ironis. Kita membutuhkan gelar untuk membuktikan bahwa kita belajar, tetapi setelah mendapat gelar, kita masih harus membuktikan bahwa kita benar-benar bisa. Dan barangkali, pertanyaan “kalau kuliah tidak mendapat gelar, masih mau berkuliah?” bukanlah pertanyaan tentang mahasiswa. Itu adalah pertanyaan tentang seberapa besar nilai pendidikan ketika simbol pencapaiannya dilepaskan.
Plato dan Aristoteles Kuliah Tanpa Gelar Akademik?
Judul saya mungkin mengada-ada, namun coba kita kembali ke masa lalu, dimana kakek Plato dan Aristoteles membuat gagasan besar yang mengubah cara dunia berpikir. Mereka hidup jauh sebelum sistem gelar akademik modern muncul. Plato mendirikan Akademia di Athena, sementara Aristoteles pernah belajar di sana sebelum mendirikan Lyceum. Mereka belajar, mengajar, dan menghasilkan gagasan besar tanpa pernah menyandang gelar sarjana, magister, atau doktor seperti yang kita kenal sekarang.
Bukan karena mereka lupa mengurus administrasi kampus. Memang sistem gelar akademik modern belum ada. Gelar akademik berkembang kemudian bersama universitas abad pertengahan di Eropa. Pada awalnya, gelar berfungsi sebagai tanda bahwa seseorang telah menyelesaikan tahapan pendidikan tertentu dan memiliki legitimasi untuk mengajar atau menjalankan profesi tertentu.
Faktanya sampai detik ini tidak ada gelar profesor pada nama plato, aristoteles, dan socrates. Padahal karya dan gagasannya sampai sekarang belum berhenti dikembangkan. Berbeda dengan fenomena belakangan ini, sepertinya mudah sekali para elit politik di Indonesia memperolah gelar doktor kehormatan atau Dr. H.C. (Doctor Honoris Causa).
Kapan Gelar Akademik Menjadi Penting?
Seiring berkembangnya pendidikan dan dunia kerja, gelar tidak lagi hanya menjadi pengakuan akademik. Gelar juga menjadi alat untuk menyaring calon pekerja, memperoleh status sosial, dan membuka akses terhadap profesi tertentu.
Fenomena ini dikenal sebagai credentialism: kecenderungan masyarakat menggunakan ijazah dan kualifikasi formal sebagai ukuran penting dalam menentukan kesempatan seseorang.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Kita mungkin awalnya kuliah untuk mendapatkan ilmu, tetapi kemudian membutuhkan gelar untuk membuktikan bahwa kita telah mendapatkan ilmu tersebut.
Mungkinkah Gelar Akademik Berkaitan dengan Kapitalisme?
Tidak sepenuhnya. Universitas dan gelar sudah ada jauh sebelum kapitalisme modern berkembang. Namun, sistem ekonomi modern membuat gelar memiliki nilai ekonomi yang semakin besar. Ketika perusahaan membutuhkan cara cepat untuk menyeleksi pelamar, gelar menjadi salah satu tanda yang mudah digunakan.
Akibatnya, pendidikan bisa berubah menjadi semacam perlombaan kredensial: semakin banyak orang memiliki gelar, semakin tinggi pula kualifikasi yang dianggap perlu. Maka pertanyaannya bukan sekadar “Apakah gelar penting?” Tentu penting. Pertanyaan yang lebih mengganggu adalah: “Apakah kita masih akan menganggap pendidikan berharga jika gelarnya dihilangkan?” Plato dan Aristoteles mungkin akan tersenyum melihat pertanyaan itu. Mereka berhasil mengubah sejarah pemikiran tanpa pernah mencantumkan “Ph.D.” di belakang namanya.