Istilah ivory tower atau “menara gading” menggambarkan kondisi ketika seseorang berada dalam lingkungan intelektual yang relatif terpisah dari persoalan praktis masyarakat. Dalam konteks akademik, istilah ini sering digunakan untuk mengkritik universitas atau akademisi yang terlalu jauh dari realitas kehidupan sehari-hari.
Di sinilah muncul paradoks ivory tower. Akademisi memiliki pengetahuan untuk memahami dunia, tetapi justru bisa semakin jauh dari dunia yang ingin dipahaminya. Semakin tinggi seseorang mendalami teori, semakin besar pula kemungkinan ia merasa bahwa pengetahuan akademik lebih tinggi daripada pengalaman praktis. Paradoksnya sederhana: ilmu seharusnya membantu manusia memahami realitas, bukan membuat manusia kehilangan kontak dengan realitas.
Ketika Musisi Masuk Menara Gading
Dalam dunia musik, paradoks ini juga mungkin terjadi. Musisi akademis bisa sangat mahir membicarakan estetika, teori musik, metodologi penelitian, sejarah musik, atau kritik musik, tetapi belum tentu aktif berhadapan dengan persoalan nyata seorang musisi: mencari panggung, mencari murid, menjual karya, melakukan promosi, mengatur tarif, membangun jaringan, mengelola media sosial, menghadapi klien, atau bertahan ketika pemasukan tidak pasti.
Ini bukan berarti pendidikan tinggi musik tidak penting. Justru sebaliknya, pendidikan memberikan perspektif yang tidak selalu diperoleh dari pengalaman lapangan. Masalahnya muncul ketika gelar menggantikan pengalaman, teori menggantikan praktik, dan wacana menggantikan keberanian untuk mencoba.
Penelitian dalam pendidikan musik bahkan telah lama mengkritik adanya dominasi perspektif sekolah musik terhadap praktik musik, termasuk kesenjangan antara musik yang dipresentasikan secara akademis dan musik yang benar-benar dipraktikkan masyarakat.
Saya Tidak Mau Tinggal di Ivory Tower
Saya justru melihat perjalanan yang tidak sempurna sebagai sesuatu yang patut dibanggakan. Saya lulus S1, tetapi pernah tidak bisa langsung melanjutkan S2 karena tidak mendapatkan beasiswa. Pada satu sisi, mungkin terlihat seperti keterlambatan akademik. Namun pada sisi lain, ada kesempatan untuk benar-benar membawa ilmu keluar dari kampus dan mengujinya di lapangan.
Membangun bisnis musik, mengajar, memproduksi musik, mengelola proyek, bertemu murid, berhadapan dengan klien, mencoba teknologi baru, gagal, memperbaiki kesalahan, kemudian mencoba lagi—semuanya menjadi laboratorium yang berbeda.
Tentu banyak cacatnya. Tetapi memang begitulah belajar. Saya lebih memilih menjadi musisi akademis yang pernah kotor di lapangan, daripada hanya bersih di atas kertas. Caranya sederhana: tetap belajar, tetapi jangan berhenti praktik. Tetap membaca jurnal, tetapi juga membaca kebutuhan pasar. Tetap menulis penelitian, tetapi sesekali turun ke panggung. Ajarkan teori, tetapi pastikan teori tersebut bisa membantu seseorang melakukan sesuatu.
Jangan Cepat Menghakimi
Menariknya, kita tidak boleh sembarangan menunjuk seorang musisi akademis lalu mengatakan, “Dia terjebak ivory tower.” Klaim seperti itu membutuhkan bukti tentang kehidupannya, bukan sekadar karena ia seorang profesor.
Justru ada contoh akademisi musik yang berusaha menjembatani dua dunia. Simon Frith, misalnya, adalah akademisi musik yang juga aktif sebagai jurnalis. Ia dikenal karena membawa kajian musik populer ke ranah akademik dan terlibat dalam berbagai aktivitas di luar universitas.
Contoh lain adalah Andrae Alexander, akademisi di USC Thornton School of Music. Ia memiliki pengalaman di industri musik, mengajar musik bisnis dan produksi, sekaligus terlibat dalam organisasi sosial dan industri musik.
Contoh-contoh tersebut justru menunjukkan jalan keluar dari ivory tower: bukan meninggalkan akademik, tetapi membuka pintunya.
Kritik, Bukan Penghinaan
Tulisan ini bukan serangan kepada musisi akademis. Akademisi sangat dibutuhkan. Teori tak kalah pentingnya. Penelitian juga menjadi pondasi perkembangan musik akademis. Gelar juga memiliki fungsi penting. Yang perlu dikritik adalah ketika akademik menjadi identitas yang membuat seseorang lupa bahwa musik adalah praktik hidup.
Musisi tidak hanya hidup di ruang seminar. Ia hidup di ruang latihan, panggung, kelas, pasar, komunitas, internet, dan kehidupan sehari-hari. Karena itu, bagi saya, pendidikan tinggi bukanlah tempat untuk membangun menara gading. Pendidikan seharusnya menjadi menara pengawas: naik untuk melihat lebih jauh, lalu turun kembali untuk melakukan sesuatu.
Saya tidak ingin menjadi musisi yang hanya pandai menjelaskan bagaimana dunia musik seharusnya bekerja. Saya ingin menjadi musisi yang ikut bekerja di dalamnya—meskipun berantakan, penuh kesalahan, dan masih terus belajar.