20 July 2026

Paradoks Mahasiswa Musik: Mengejar Gelar Akademis Tinggi, Kemampuan Bermusik Justru Jalan di Tempat


Dunia akademik musik memiliki paradoks yang menarik. Semakin tinggi gelarnya, terkadang semakin rendah keberanian menyentuh instrumen. Semakin panjang daftar publikasinya, semakin pendek durasi interaksi dengan praktik musikal sehari-hari. Tentu ini bukan gambaran semua akademisi, tetapi cukup sering menjadi bahan diskusi di kalangan praktisi.


Fenomena lain yang tak kalah menarik adalah kebiasaan berbicara panjang lebar seperti komentator sepak bola. Analisis mengalir tanpa henti, istilah asing berhamburan, teori berlapis-lapis, tetapi ketika diminta memainkan satu frase sederhana, yang terdengar justru suara kursi yang digeser. Seolah-olah pertandingan sudah selesai hanya dengan menjelaskan taktik, tanpa pernah menyentuh lapangan.

Satire ini bukan untuk merendahkan akademisi. Justru sebaliknya, sebagai kritik agar dunia akademik musik kembali mengingat bahwa musik pertama-tama adalah bunyi, pengalaman, dan praktik.


Ketika Buku Menjadi Instrumen Mayor

Sebagai seseorang yang menempuh studi di bidang musikologi, saya merasakan kecenderungan yang cukup mengganggu. Hampir semua akademisi seolah melakukan brainwash kepada mahasiswa bahwa buku adalah instrumen mayor yang wajib dimainkan sebelum instrumen musik itu sendiri.

Mahasiswa diajarkan menghafal teori, mengutip referensi, memperdebatkan definisi, bahkan lebih akrab dengan halaman jurnal daripada suara musik yang hidup di sekitarnya. Padahal buku hanyalah peta, bukan wilayahnya. Ia membantu memahami fenomena, tetapi tidak pernah menggantikan pengalaman empiris.

Musikologi memang membutuhkan fondasi teori yang kuat. Namun perjalanan menuju seorang musikolog, peneliti empiris, ataupun kritikus musik yang baik tidak pernah cukup hanya melalui membaca. Ia membutuhkan observasi, mendengarkan secara aktif, bermain musik, menyaksikan perubahan budaya, berdialog dengan pelaku seni, serta mengalami langsung dinamika musikal di masyarakat.


Praktisi Sudah Berjalan, Akademisi Baru Membalik Halaman

Sindiran yang paling keras mungkin adalah ini: ketika seorang akademisi baru mengganti halaman bukunya, para praktisi sudah menyaksikan perubahan fenomena musik di lapangan.

Musik berkembang setiap hari. Genre baru muncul, teknologi mengubah cara berkarya, komunitas membentuk kebiasaan baru, dan publik menciptakan selera yang terus berubah. Fenomena-fenomena tersebut sering kali lebih cepat daripada kecepatan publikasi ilmiah.

Akibatnya, tidak sedikit lulusan yang sangat fasih menjelaskan teori musik tetapi mengalami kesulitan membaca realitas musikal yang sedang berlangsung.


Bukti Empiris Tidak Bisa Diabaikan

Kritik ini bukan semata opini. Dalam penelitian saya yang terbit pada jurnal SINTA 2 berjudul The Evaluation of Music Department Students of Institut Seni Indonesia Yogyakarta in Modes Identification, yang ditulis bersama dosen saya, Dr. Prima Dona Hapsari, M.Hum., ditemukan bahwa hampir 50% mahasiswa tingkat atas tidak mampu mengidentifikasi modes dalam sebuah karya ketika contoh audio diperdengarkan.

Temuan tersebut menghadirkan pertanyaan penting. Jika mahasiswa telah mempelajari teori selama bertahun-tahun, mengapa kemampuan auditif mereka belum berkembang secara optimal?

Jawabannya kemungkinan bukan karena mereka kurang cerdas, melainkan karena pembelajaran lebih banyak berpusat pada teks dibandingkan pengalaman mendengar secara intensif.


Idealnya Pendidikan Musik Berjalan Seimbang

Pendidikan musik tidak seharusnya mempertentangkan teori dan praktik. Keduanya justru saling memperkuat. Idealnya, setiap mata kuliah teori selalu diikuti latihan mendengar (ear training) yang kontekstual. Mata kuliah sejarah musik sebaiknya mengajak mahasiswa mengamati praktik musikal yang hidup di masyarakat. Analisis musik perlu dibarengi dengan praktik memainkan, mendengar, dan mendiskusikan karya secara langsung. Penelitian musikologi juga semestinya lebih banyak melibatkan observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, hingga refleksi atas pengalaman musikal nyata.

Akademisi perlu tetap membaca buku, tetapi juga rutin hadir di konser, latihan ensambel, ruang komunitas, studio rekaman, hingga ruang-ruang budaya tempat musik benar-benar hidup. Sebaliknya, praktisi juga dapat memperkaya pengalamannya melalui teori dan kajian ilmiah agar refleksinya semakin tajam.

Pada akhirnya, pendidikan musik yang ideal bukan melahirkan lulusan yang sekadar pandai mengutip, maupun sekadar piawai memainkan instrumen. Yang dibutuhkan adalah insan musik yang mampu mendengar dengan telinga, berpikir dengan kepala, merasakan dengan hati, dan membuktikan gagasannya melalui praktik serta penelitian empiris. Ketika teori dan pengalaman berjalan beriringan, barulah musikologi benar-benar menjadi ilmu tentang musik—bukan sekadar ilmu tentang buku.