Kalimat “musik adalah bahasa universal” terdengar indah. Ia sering digunakan untuk menggambarkan kemampuan musik menembus batas negara, bahasa, agama, dan budaya.
Musik dianggap dapat membuat manusia dari berbagai belahan dunia saling memahami tanpa perlu berbicara. Masalahnya, kalimat tersebut menjadi bermasalah ketika dianggap sebagai fakta.Musik memang dapat dinikmati lintas budaya, tetapi menikmati musik tidak sama dengan memahami maknanya. Seorang pendengar dari Jawa bisa menikmati bunyi gamelan Bali, tetapi belum tentu memahami makna musikal yang dipahami oleh masyarakat Bali. Begitu pula seseorang yang terbiasa dengan musik Barat mungkin dapat menikmati musik tradisional Jepang, tetapi belum tentu memahami seluruh konsep musikal yang bekerja di dalamnya. Jadi, musik sebagai bahasa universal lebih tepat disebut sebagai kiasan.
Musik bukan bahasa yang dipahami dengan cara yang sama
Kalau musik benar-benar merupakan bahasa universal, seharusnya sebuah bunyi memiliki makna yang relatif sama bagi semua manusia. Kenyataannya tidak demikian. Nada, melodi, ritme, harmoni, bahkan diam dapat memiliki makna berbeda dalam masyarakat yang berbeda. Musik yang terdengar sedih bagi seseorang belum tentu dianggap sedih oleh orang lain. Musik untuk upacara tertentu juga tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan budaya yang menyertainya. Di sinilah gagasan Thomas Kuhn tentang disciplinary matrix menjadi menarik.
Dalam pemikiran Kuhn, sebuah komunitas keilmuan dapat memahami persoalan karena mereka berbagi seperangkat konsep, nilai, simbol, dan cara melihat masalah yang sama. Jika gagasan tersebut dibawa ke dalam musik, kita bisa mengatakan bahwa pemahaman musikal juga membutuhkan semacam matriks budaya atau musikal yang sama.
Dua orang mungkin mendengar nada yang sama, tetapi tidak otomatis menghasilkan pemaknaan yang sama. Mereka membutuhkan pengalaman, pengetahuan, konvensi, dan konteks yang memungkinkan tanda musikal tersebut dipahami. Dengan kata lain, musik tidak berbicara sendirian. Pendengarlah yang membawa dunia makna ke dalam musik.
Tidak ada manusia universal
Persoalan ini juga berkaitan dengan gagasan bahwa tidak ada manusia universal; yang ada adalah manusia yang selalu berada dalam konteks lokal. Manusia tidak hadir sebagai pendengar yang kosong. Ia lahir dalam bahasa tertentu, tumbuh dalam kebudayaan tertentu, mengenal ritual tertentu, dan memiliki pengalaman musikal tertentu.
Karena itu, ketika seseorang mengatakan “musik menyatukan semua manusia”, kita perlu bertanya: manusia yang mana? Manusia Jawa? Manusia Jepang? Manusia Eropa? Manusia urban? Manusia yang tumbuh dengan musik populer? Atau manusia yang sejak kecil hidup dalam tradisi musik tertentu?
Mungkin yang universal bukanlah makna musik, melainkan kemampuan manusia untuk menghasilkan dan merespons bunyi secara musikal. Namun bentuk, fungsi, aturan, dan makna musik tetap dibentuk oleh lingkungan sosial dan budaya.
Lalu, mengapa muncul istilah musik sebagai bahasa universal?
Istilah ini memiliki sejarah panjang dalam pemikiran tentang musik. Musik sering dianggap memiliki kemampuan melampaui bahasa verbal karena seseorang dapat merasakan ketegangan, energi, suasana, atau emosi tanpa memahami liriknya. Selain itu, perkembangan globalisasi membuat musik semakin mudah berpindah dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Musik populer, film, konser internasional, dan internet memperkuat kesan bahwa musik dapat menjadi medium komunikasi lintas batas.
Tetapi perpindahan musik tidak berarti perpindahan makna secara utuh. Kita dapat mendengar musik dari kebudayaan lain tanpa memahami seluruh sistem tanda yang membuat musik tersebut bermakna bagi komunitas asalnya. Maka, “musik adalah bahasa universal” sebaiknya dipertahankan sebagai metafora, bukan kebenaran ilmiah. Musik memang dapat menjadi jembatan antarbudaya. Namun jembatan tidak berarti kedua sisi sungai memiliki bahasa, sejarah, dan cara memahami dunia yang sama.
Justru karena manusia berbeda-beda, musik menjadi menarik. Ia memungkinkan manusia bertemu melalui bunyi tanpa harus berpura-pura bahwa mereka memiliki makna yang sama. Musik mungkin universal sebagai pengalaman manusia, tetapi tidak universal sebagai bahasa dan makna.
Teknologi Membuat Musik Terlihat Borderless
Lalu mengapa gagasan bahwa musik adalah bahasa universal justru terasa semakin masuk akal pada zaman sekarang? Salah satu jawabannya adalah teknologi. Rekaman suara, radio, televisi, kaset, CD, YouTube, Spotify, TikTok, hingga platform musik digital membuat musik dapat bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Musik yang dahulu hanya terdengar di sebuah desa, kota, atau komunitas tertentu kini dapat didengarkan oleh jutaan orang di berbagai negara.
Teknologi menciptakan pengalaman musik yang semakin borderless. Seorang pendengar di Indonesia dapat mendengarkan K-pop dari Korea Selatan. Pendengar di Amerika dapat menemukan gamelan Bali melalui YouTube. Musisi di Indonesia dapat menggunakan perangkat lunak yang sama dengan produser musik di Inggris atau Jepang.
Perjumpaan semacam ini membuat musik tampak seperti bahasa yang tidak mengenal batas. Namun di sinilah kita perlu membedakan pergerakan musik dengan pergerakan makna. Teknologi dapat menghilangkan batas geografis, tetapi tidak otomatis menghilangkan batas budaya. Spotify dapat membawa sebuah lagu ke 180 negara, tetapi Spotify tidak mengirimkan seluruh konteks budaya yang membuat lagu tersebut bermakna bagi masyarakat asalnya.
Bahkan algoritma platform digital dapat menciptakan ilusi bahwa selera manusia di seluruh dunia semakin sama. Ketika jutaan orang mendengarkan lagu yang sama, kita mudah menyimpulkan bahwa musik telah menjadi bahasa universal. Padahal mungkin yang menjadi universal hanyalah akses terhadap musik, bukan makna musik itu sendiri.