Seni sering dipahami sebagai lukisan, musik, tari, teater, patung, atau karya sastra. Namun, dalam Art as Experience, John Dewey menawarkan cara pandang yang berbeda. Bagi Dewey, seni tidak cukup dipahami sebagai benda atau karya yang dihasilkan seniman. Seni menjadi bermakna ketika karya tersebut hadir sebagai sebuah pengalaman.
Pandangan ini penting karena menggeser perhatian dari pertanyaan “apa karya seninya?” menjadi “apa yang terjadi ketika manusia mengalami seni?”
Seni yang Dimaksud: Pengalaman Estetis
Ketika membahas seni sebagai pengalaman, yang dimaksud bukan sekadar aktivitas membuat karya seni. Seni yang dimaksud adalah pengalaman estetis manusia ketika berinteraksi secara utuh dengan karya seni.
Dalam musik, misalnya, seni bukan hanya partitur, rekaman, atau lagu sebagai produk akhir. Seni hadir dalam pengalaman ketika seseorang mendengarkan, merasakan, memperhatikan perubahan bunyi, memahami struktur musik, dan memberikan respons terhadap keseluruhan perjalanan musikal.
Hal yang sama dapat terjadi dalam seni rupa. Sebuah lukisan bukan hanya objek visual yang tergantung di dinding. Pengalaman seni muncul ketika seseorang mengamati warna, bentuk, komposisi, tekstur, serta hubungan berbagai unsur visual tersebut dan membangun pengalaman tertentu melalui proses pengamatan itu.
Dengan demikian, karya seni merupakan bagian dari pengalaman seni, tetapi pengalaman seni tidak berhenti pada objek karya tersebut.
John Dewey dan Art as Experience
John Dewey menerbitkan Art as Experience pada 1934 sebagai salah satu karya penting dalam pemikirannya tentang estetika. Dewey berusaha menghubungkan seni dengan kehidupan sehari-hari, bukan menempatkan seni sebagai sesuatu yang terpisah dari pengalaman manusia.
Menurut Dewey, pengalaman memiliki proses. Manusia berhadapan dengan lingkungan, melakukan sesuatu, menerima konsekuensi dari tindakan tersebut, kemudian membangun kesinambungan pengalaman. Dalam kondisi tertentu, proses tersebut dapat mencapai suatu bentuk keutuhan atau consummation. Dalam konteks seni, pengalaman semacam itu dapat menghasilkan pengalaman estetis.
Karena itu, menikmati musik tidak sama dengan sekadar mendengar suara. Mendengar mungkin merupakan aktivitas fisik, sedangkan pengalaman estetis melibatkan perhatian, hubungan antarbagian, emosi, pemaknaan, dan perkembangan pengalaman dari awal hingga akhir.
Seni Bukan Sekadar Pajangan
Pemikiran Dewey juga memberikan kritik terhadap kecenderungan memisahkan karya seni dari kehidupan. Ketika lukisan ditempatkan di museum, misalnya, orang dapat melihatnya sebagai objek yang berdiri sendiri. Padahal, pengalaman terhadap lukisan melibatkan manusia, lingkungan, sejarah, pengetahuan, perhatian, dan respons emosional.
Hal serupa berlaku dalam musik. Sebuah lagu yang tersimpan sebagai file audio belum tentu menjadi pengalaman seni bagi pendengarnya. Pengalaman tersebut terjadi ketika manusia benar-benar berinteraksi dengan musik. Artinya, seni tidak hanya berada pada objek; seni terjadi dalam relasi antara manusia, karya, dan lingkungan pengalaman.
Seni sebagai Proses
Gagasan ini membuat seni lebih tepat dipahami sebagai proses pengalaman daripada sekadar hasil akhir. Seniman memang menghasilkan karya, tetapi karya tersebut kemudian memasuki kehidupan orang lain melalui pengalaman melihat, mendengar, membaca, atau menyaksikannya.
Dalam pendidikan seni, perspektif ini menjadi penting. Pembelajaran musik, misalnya, tidak semestinya hanya mengejar kemampuan memainkan notasi atau menghasilkan pertunjukan. Peserta didik juga perlu mengalami musik: mendengarkan, mencoba, merespons, membuat keputusan musikal, menemukan hubungan antarbunyi, dan merefleksikan pengalaman tersebut.
Dengan demikian, seni sebagai pengalaman menunjukkan bahwa nilai seni tidak hanya terletak pada benda atau produk yang dihasilkan. Nilai tersebut juga muncul dari bagaimana manusia mengalami, merasakan, memahami, dan berinteraksi dengan seni.
Seni adalah Pengalaman yang Dihidupi
Melalui Art as Experience, John Dewey membantu membuka perspektif bahwa seni tidak harus ditempatkan jauh dari kehidupan manusia. Musik, seni rupa, tari, teater, dan sastra dapat menjadi pengalaman yang berlangsung dalam hubungan manusia dengan lingkungan.
Jadi, ketika dikatakan “seni adalah pengalaman,” yang dimaksud bukan bahwa setiap pengalaman otomatis merupakan seni. Yang dimaksud adalah bahwa seni menjadi benar-benar hadir sebagai seni ketika karya dan proses artistik dialami secara utuh oleh manusia.
Seni dengan demikian bukan hanya sesuatu yang dibuat, dipamerkan, atau dipertontonkan, tetapi sesuatu yang dialami.
Musik sebagai Pengalaman Manusia
Jika gagasan Dewey tentang seni sebagai pengalaman diterapkan pada musik, maka musik tidak cukup dipahami sebagai kumpulan bunyi, lagu, partitur, atau rekaman. Musik menjadi pengalaman ketika manusia berinteraksi dengannya secara utuh.
Menurut pemahaman saya, pengalaman manusia melalui musik dapat terjadi dalam berbagai posisi. Pendengar mengalami musik melalui proses mendengar, memperhatikan, mengingat, merasakan, dan memahami hubungan antarbunyi. Pemain musik mengalami musik melalui tubuh, gerakan, instrumen, kesalahan, koreksi, dan keputusan musikal. Sementara itu, pencipta dan produser musik mengalami proses yang lebih kompleks karena mereka berhadapan dengan pilihan, percobaan, perubahan, serta konsekuensi dari keputusan yang dibuat.
Dalam pengertian ini, musik tidak hanya didengar, tetapi juga dialami. Seseorang dapat mendengarkan lagu yang sama berkali-kali dan memperoleh pengalaman yang berbeda. Pengalaman tersebut dapat dipengaruhi oleh kondisi seseorang, ingatan, pengetahuan musikal, lingkungan, bahkan pengalaman hidup yang melekat pada musik tersebut. Sebuah lagu dapat menjadi biasa bagi satu orang, tetapi sangat personal bagi orang lain karena memiliki hubungan dengan peristiwa tertentu dalam kehidupannya.
Saya melihat hal tersebut sejalan dengan pemikiran Dewey bahwa pengalaman manusia tidak dapat dipisahkan dari hubungan manusia dengan lingkungannya. Musik hadir dalam hubungan tersebut. Ada bunyi yang terdengar, manusia yang mendengarkan, tubuh yang merespons, pikiran yang menafsirkan, serta lingkungan yang ikut membentuk pengalaman.
Pengalaman musik juga tidak harus selalu menyenangkan. Musik yang sedih, menegangkan, asing, atau bahkan tidak nyaman tetap dapat menjadi pengalaman estetis. Yang penting bukan sekadar apakah musik memberikan kesenangan, melainkan adanya keterlibatan manusia dalam mengikuti dan mengalami proses musikal secara utuh.
Karena itu, saya memandang musik sebagai salah satu bentuk seni yang memperlihatkan dengan jelas bahwa seni tidak berhenti pada karya sebagai produk. Sebuah rekaman memang dapat disimpan sebagai objek, tetapi pengalaman musikal baru berlangsung ketika manusia berjumpa dengan musik tersebut.
Pandangan ini juga penting dalam pendidikan musik. Belajar musik seharusnya tidak hanya berarti mempelajari teori, notasi, teknik bermain, atau sejarah musik. Peserta didik perlu mengalami musik secara langsung: mendengarkan, memainkan, menciptakan, bereksperimen, melakukan kesalahan, memperbaiki, dan merefleksikan pengalaman musikalnya.
Dengan demikian, pertanyaan dalam pendidikan musik tidak hanya berhenti pada “apa yang diketahui peserta didik tentang musik?”, tetapi juga “apa yang dialami peserta didik melalui musik?”
Bagi saya, pertanyaan kedua membuka pemahaman bahwa musik bukan sekadar materi pembelajaran. Musik dapat menjadi ruang pengalaman manusia—tempat manusia merasakan, berpikir, bertindak, mengingat, menciptakan, dan menemukan makna.