Pendidikan sering dianggap sebagai jalan untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan. Masalahnya, masa depan adalah sesuatu yang belum kita ketahui. Kita tidak benar-benar tahu pekerjaan apa yang akan muncul, teknologi apa yang akan berkembang, atau kemampuan apa yang nantinya paling dibutuhkan.
Justru karena masa depan sulit diprediksi, kemampuan berkreasi menjadi sangat penting. Gagasan ini banyak dibicarakan oleh Sir Ken Robinson dalam pemikirannya mengenai pendidikan dan kreativitas. Menurut Robinson, anak-anak memiliki kemampuan luar biasa untuk berinovasi, tetapi sistem pendidikan justru sering membuat kemampuan tersebut semakin menyempit.
Dalam konteks pendidikan musik, gagasan ini menjadi menarik. Sebab musik sejak awal merupakan ruang untuk mencoba, mengeksplorasi, membuat kesalahan, dan menemukan sesuatu yang sebelumnya belum ada.
Semua Anak Memiliki Potensi Kreatif
Robinson melihat bahwa setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang luar biasa. Persoalannya bukan apakah anak memiliki kreativitas, melainkan bagaimana pendidikan memperlakukannya.
Kreativitas seharusnya tidak ditempatkan sebagai kemampuan tambahan setelah anak menguasai matematika, bahasa, atau ilmu pengetahuan. Kreativitas justru perlu dipandang sebagai bagian penting dari pendidikan.
Robinson bahkan mengusulkan agar kreativitas diperlakukan dengan status yang sama pentingnya dengan literasi.
Dalam musik, prinsip tersebut sebenarnya sangat mudah ditemukan.
Seorang anak yang memainkan piano tidak selalu harus langsung menghasilkan permainan yang benar secara teknis. Ketika ia mencoba kombinasi nada yang aneh, membuat melodi sendiri, mengubah ritme, atau bahkan memainkan sesuatu yang dianggap salah, sebenarnya sedang terjadi proses kreatif.
Masalahnya muncul ketika pendidikan hanya memberikan satu jawaban yang dianggap benar.
Takut Salah Bisa Membunuh Kreativitas
Salah satu gagasan Robinson yang paling terkenal adalah bahwa seseorang yang tidak siap melakukan kesalahan akan sulit menghasilkan sesuatu yang orisinal. Menjadi salah tentu bukan berarti setiap kesalahan otomatis menghasilkan kreativitas. Namun, kreativitas membutuhkan keberanian untuk mencoba sesuatu yang hasilnya belum diketahui.
Bayangkan pendidikan musik yang hanya mengatakan: Nada ini salah. Ritme ini salah. Chord ini salah. Cara memainkan ini salah. Jika pola tersebut terus berlangsung, siswa akhirnya belajar satu hal yang mungkin tidak pernah tertulis dalam silabus: jangan mencoba sesuatu yang belum pasti benar.
Padahal proses menciptakan musik justru sering dimulai dari eksperimen. Musisi mencoba progresi chord yang belum pernah digunakan, produser mengubah sound yang tidak biasa, komposer memotong struktur lagu, atau seorang siswa membuat melodi yang awalnya terdengar aneh. Dari situlah kemungkinan baru muncul.
Pendidikan Musik Bukan Hanya Mengajarkan Jawaban
Pendidikan musik sering kali memiliki persoalan ketika keberhasilan belajar terlalu dekat dengan kemampuan reproduksi. Siswa dianggap berhasil ketika mampu memainkan lagu sesuai partitur, mengikuti tempo, memainkan teknik dengan benar, atau menghafalkan materi yang diberikan guru.
Semua kemampuan tersebut penting. Tetapi pendidikan musik tidak seharusnya berhenti di sana. Musik juga merupakan bidang yang memungkinkan seseorang menciptakan sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Seorang siswa bukan hanya perlu belajar bagaimana memainkan karya Mozart, Beethoven, atau komposer lainnya. Ia juga perlu mendapatkan kesempatan untuk bertanya: "Kalau saya membuat musik sendiri, apa yang bisa saya temukan?" Pertanyaan tersebut menggeser pendidikan musik dari sekadar reproduksi menuju eksplorasi.
Mengapa Seni Sering Berada di Bawah Matematika dan Bahasa?
Robinson mengkritik hierarki mata pelajaran dalam sistem pendidikan modern. Dalam banyak sistem pendidikan, matematika dan bahasa biasanya mendapatkan posisi yang sangat tinggi. Setelah itu terdapat bidang humaniora, sementara seni sering ditempatkan di bagian bawah. Bahkan di antara bidang seni sendiri terdapat hierarki. Musik dan seni rupa sering mendapatkan perhatian lebih besar dibandingkan tari dan drama.
Padahal kemampuan manusia tidak hanya bekerja melalui angka dan kata. Kita memahami dunia melalui gambar, suara, gerakan, pengalaman tubuh, emosi, dan berbagai bentuk pengalaman lainnya.
Musik menjadi contoh yang sangat jelas. Seseorang dapat memahami pola melalui suara. Ia dapat mengingat pengalaman melalui lagu. Ia dapat menyampaikan emosi tanpa satu kata pun. Bahkan konsep matematika seperti pola, rasio, pengulangan, dan struktur dapat hadir secara musikal. Karena itu, pendidikan musik tidak tepat jika dipandang hanya sebagai pelajaran tambahan untuk mengisi waktu luang.
Anak Tidak Hanya Berpikir dengan Kepala
Robinson juga mengkritik kecenderungan pendidikan yang semakin lama semakin mengarahkan anak untuk "berpikir dari kepala". Seolah-olah tubuh hanya menjadi kendaraan untuk membawa kepala ke sekolah. Padahal manusia belajar melalui seluruh tubuh. Dalam musik, hal ini terlihat sangat jelas. Seorang drummer belajar melalui koordinasi tubuh. Penyanyi belajar melalui pernapasan dan kontrol tubuh. Pemain gitar mengembangkan hubungan antara pendengaran, penglihatan, sentuhan, dan gerakan. Artinya, pembelajaran musik memperlihatkan bahwa kecerdasan manusia tidak selalu hadir dalam bentuk kemampuan akademik yang mudah diukur melalui ujian tertulis.
Kisah Gillian Lynne: Bakat Menari yang Dianggap Bermasalah
Robinson menggunakan kisah koreografer Gillian Lynne sebagai contoh menarik mengenai bagaimana sistem pendidikan dapat salah membaca kemampuan seorang anak. Ketika masih kecil, Gillian dianggap mengalami masalah karena tidak mampu duduk diam dan mengikuti kegiatan sekolah sebagaimana anak-anak lainnya. Ia kemudian dibawa menemui seorang dokter.
Dalam cerita yang disampaikan Robinson, dokter tersebut justru meminta Gillian berada di sebuah ruangan sementara radio dinyalakan. Gillian kemudian spontan bergerak mengikuti musik.
Dokter tersebut menyimpulkan bahwa Gillian bukan sedang menghadapi masalah yang harus "diperbaiki". Ia adalah seorang penari.
Di kemudian hari, Gillian Lynne menjadi koreografer terkenal dan terlibat dalam karya-karya besar seperti Cats dan The Phantom of the Opera.
Kisah tersebut memang berasal dari narasi Robinson dan tidak boleh dibaca sebagai diagnosis medis atau bukti bahwa semua anak yang aktif secara fisik sebenarnya memiliki bakat seni tertentu. Namun, cerita tersebut memberikan pertanyaan penting bagi pendidikan:
Bagaimana jika perilaku yang dianggap sebagai masalah sebenarnya merupakan bentuk kemampuan yang belum dipahami?
Bagaimana Jika Anak yang Tidak Cocok dengan Sistem Justru Memiliki Bakat Musik?
Pertanyaan yang sama dapat diterapkan dalam pendidikan musik. Bagaimana jika seorang anak tidak terlalu bagus dalam ujian teori musik, tetapi mampu menciptakan melodi? Bagaimana jika ia tidak mampu membaca notasi dengan cepat, tetapi memiliki kepekaan pendengaran yang luar biasa?
Bagaimana jika ia tidak tertarik memainkan repertoar yang diberikan guru, tetapi mampu membuat musik menggunakan komputer? Atau bagaimana jika ia tidak cocok dengan pembelajaran musik konvensional, tetapi sangat tertarik dengan sound design, produksi musik, sampling, beat making, atau komposisi digital?
Jika pendidikan hanya memiliki satu definisi tentang "siswa musik yang baik", berbagai kemampuan tersebut berpotensi tidak terlihat. Di sinilah pendidikan musik perlu memperluas cara memandang kecerdasan.
Kecerdasan Itu Beragam dan Dinamis
Dalam gagasan Robinson, kecerdasan manusia memiliki setidaknya tiga karakter penting: beragam, dinamis, dan khas pada setiap individu. Kita tidak hanya berpikir melalui bahasa atau angka. Kita juga dapat berpikir secara visual, melalui suara, gerakan, maupun pengalaman tubuh.
Dalam musik, keberagaman tersebut sangat nyata. Ada orang yang kuat dalam teori musik. Ada yang sangat sensitif terhadap pitch. Ada yang memiliki kemampuan ritmis. Ada yang unggul dalam improvisasi. Ada yang mampu menciptakan aransemen. Ada yang memahami teknologi produksi musik dengan cepat.
Tidak semuanya harus muncul dalam bentuk yang sama. Karena itu, pendidikan musik yang hanya mengukur satu jenis kemampuan berisiko mengabaikan bentuk kecerdasan musikal lainnya.
Pendidikan Musik untuk Masa Depan yang Belum Kita Ketahui
Persoalan pendidikan bukan hanya bagaimana membuat anak mampu menjawab pertanyaan hari ini. Pendidikan juga harus mempersiapkan mereka menghadapi pertanyaan yang bahkan belum kita ketahui.
Hal tersebut semakin relevan dalam dunia musik digital. Teknologi produksi musik, kecerdasan buatan, distribusi digital, instrumen elektronik, dan berbagai bentuk media baru terus mengubah cara manusia menciptakan dan mengalami musik.
Tidak mungkin pendidikan musik hanya mempersiapkan siswa untuk dunia yang sudah lewat. Siswa perlu memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi, bereksperimen, beradaptasi, menciptakan, dan menemukan kemungkinan baru.
Dengan demikian, pendidikan musik bukan hanya tentang mengajarkan musik yang sudah ada, tetapi juga memberikan ruang kepada anak untuk menemukan musik yang belum ada.
Dan mungkin di situlah inti pemikiran Robinson menjadi relevan: kita tidak pernah benar-benar tahu seperti apa masa depan. Karena itu, pendidikan seharusnya tidak mematikan kemampuan anak untuk menciptakannya.