Belajar musik seharusnya tidak berhenti pada kemampuan memainkan alat musik. Ada satu hal yang sering luput dari pendidikan musik, khususnya ketika siswa mulai dibawa tampil di ruang publik: etika dan estetika panggung.
Sebagai founder Fisella® Music Course, saya mengamati bagaimana sejumlah brand kursus musik besar menampilkan anak-anak didiknya di mal. Dari sisi keberanian tampil, tentu ini merupakan pengalaman positif. Namun, pertanyaannya: apakah anak sudah diajarkan bagaimana menjadi seorang performer sebelum naik ke panggung?
Manggung Bukan Tempat untuk Soundcheck
Bayangkan sebuah panggung profesional. Apakah penyanyi naik ke panggung lalu berkata, "Tes, tes, 1, 2, 3", kemudian gitaris melakukan jreng-jreng, pemain keyboard mencoba beberapa suara, atau drummer memainkan alatnya keras-keras ketika penonton sudah berada di sekitar panggung?
Tentu tidak.
Persiapan seperti tuning gitar, pengecekan mikrofon, menentukan volume monitor, mencoba instrumen, hingga soundcheck seharusnya dilakukan sebelum pertunjukan dimulai.
Inilah yang saya maksud dengan etika manggung.
Etika manggung berarti memahami bahwa panggung adalah ruang bersama. Performer bukan satu-satunya orang yang menggunakan ruang tersebut. Ada penonton, pekerja mal, pemilik tenant, orang yang sedang makan, bahkan orang yang sebenarnya tidak berniat menonton pertunjukan.
Panduan pendidikan musik dari NAMM Foundation juga menempatkan kemampuan menjadi audiens yang baik sebagai bagian dari pendidikan musik, karena pertunjukan langsung membutuhkan disiplin, kebijaksanaan, dan kesadaran terhadap orang lain.
Contoh Etika Manggung yang Harus Diajarkan
Beberapa hal sederhana yang seharusnya masuk dalam pendidikan kursus musik antara lain:
- Datang sebelum jadwal tampil untuk persiapan.
- Melakukan tuning sebelum naik panggung.
- Tidak melakukan soundcheck ketika acara sudah dimulai.
- Tidak berteriak atau berbicara keras di atas panggung tanpa kebutuhan.
- Mengetahui kapan harus naik dan turun panggung.
- Menghormati performer lain.
- Tidak memainkan instrumen ketika orang lain sedang tampil.
- Mengetahui cara menggunakan mikrofon dengan benar.
- Mengucapkan terima kasih kepada penyelenggara dan penonton.
- Memahami bahwa tidak semua orang di lokasi adalah penonton konser.
Hal-hal tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, justru dari kebiasaan kecil inilah profesionalisme seorang musisi dibentuk.
Estetika Manggung Juga Penting
Selain etika, ada estetika panggung.
Estetika bukan berarti semua anak harus tampil sempurna, mahal, atau bergaya seperti musisi profesional. Estetika lebih berkaitan dengan bagaimana pertunjukan terlihat dan terdengar sebagai sebuah kesatuan.
Contohnya, anak yang bermain gitar tidak perlu terus-menerus menunduk melihat tangannya. Penyanyi perlu memahami posisi berdiri, jarak dengan mikrofon, ekspresi, dan komunikasi dengan penonton.
Pemain musik juga perlu memahami stage presence: kapan diam, kapan bergerak, kapan melihat penonton, dan bagaimana mengakhiri lagu.
Bahkan cara membawa alat musik naik dan turun panggung adalah bagian dari estetika pertunjukan.
"Yang Penting Anak Berani Tampil"?
Saya setuju bahwa anak perlu diberi kesempatan tampil. Tetapi berani tampil bukan berarti harus selalu tampil di ruang publik.
Fals ketika belajar musik bukan masalah. Salah memainkan nada juga bukan masalah. Namanya juga belajar.
Yang menjadi masalah adalah ketika siswa yang belum siap dipaksakan tampil di ruang publik hanya karena ada agenda pertunjukan.
Ada banyak tahapan yang lebih masuk akal.
Misalnya, siswa pemula bisa terlebih dahulu mengikuti home concert, pertunjukan internal di tempat kursus, atau pertunjukan kecil di lobby tempat les. Setelah kemampuan musikal, mental, etika, dan estetika panggungnya berkembang, barulah mereka dibawa ke panggung yang lebih besar.
Apakah Manggung di Mal Harus Selalu Dikejar?
Pertanyaan kritisnya adalah: apakah semua pertunjukan benar-benar dibuat untuk kepentingan pendidikan anak, atau ada kalanya pertunjukan lebih dibutuhkan untuk memenuhi kuota dan menopang operasional kursus?
Saya tidak sedang menuduh brand tertentu. Ini adalah pertanyaan untuk seluruh industri kursus musik.
Anak yang membayar kursus memang berhak mendapatkan pengalaman belajar. Tetapi hak tersebut bukan berarti setiap siswa otomatis harus mendapatkan panggung publik, tanpa mempertimbangkan kesiapan.
Di mal, situasinya berbeda dengan ruang kelas. Ada orang yang sedang makan di food court, bekerja di coffee shop, berbelanja, berbicara dengan keluarga, atau sekadar ingin menikmati suasana.
Mereka tidak selalu memilih untuk mendengarkan konser.
Karena itu, volume, durasi, persiapan, kualitas permainan, dan perilaku performer harus mempertimbangkan lingkungan sekitar.
Kursus Musik Harus Mengajarkan Lebih dari Sekadar Not
Menurut saya, pendidikan musik yang baik bukan hanya mengajarkan "bisa memainkan lagu".
Siswa perlu belajar tiga hal: musikalitas, etika, dan estetika.
Musikalitas mengajarkan bagaimana memainkan musik.
Etika mengajarkan bagaimana menghormati ruang, penonton, sesama performer, dan penyelenggara.
Estetika mengajarkan bagaimana menyajikan musik tersebut menjadi sebuah pertunjukan yang pantas dinikmati.
Inilah kritik saya sebagai founder Fisella® Music Course. Kita jangan sampai terlalu sibuk mengejar jumlah siswa yang tampil, tetapi lupa bertanya: apakah mereka sudah siap menjadi performer?
Anak-anak memang perlu panggung. Tetapi panggung yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan persiapan yang tepat, justru merupakan bagian penting dari pendidikan musik.