25 January 2026

Negeri Kaya Seni Tapi Masyarakatnya Masih Bermental Impor dalam Pendidikan Musik


Ketika Anak Bangsa Lebih Bangga Jadi Pasar daripada Pencipta. Kalau ada brosur bertuliskan “International Music School”, refleks kita biasanya sama: langsung percaya. Belum lihat kurikulum, belum tahu pengajarnya siapa, tapi karena namanya kebarat-baratan—aman. Sebaliknya, ketika mendengar sekolah musik buatan anak bangsa, muncul pertanyaan lanjutan: “Standarnya apa?”


Lucu, ya. Seolah-olah standar seni harus diimpor.


Padahal kalau ditarik ke belakang, pertanyaan yang lebih masuk akal justru ini: sejak kapan bangsa dengan sejarah seni setua Indonesia harus minta validasi dari luar negeri untuk urusan musik?



Mental Mengiblat: Eropa, Jepang, dan Label “Berkualitas”

Tidak bisa dimungkiri, Eropa dan Jepang punya sistem pendidikan musik yang rapi. Mereka terdokumentasi, terstandardisasi, dan konsisten. Tapi masalahnya bukan di situ. Masalahnya adalah kita menganggap sistem mereka sebagai satu-satunya kebenaran.

Metode Barat dianggap “ilmiah”. Metode Jepang dianggap “disiplin”. Metode lokal? Dianggap alternatif, tradisional, atau—yang paling menyakitkan—tidak modern.

Padahal musik itu konteksual. Cara belajar musik di Wina abad ke-18 tentu berbeda dengan realitas musisi Indonesia hari ini yang:

  • hidup dari panggung ke panggung,

  • rekaman di kamar tidur,

  • dan belajar dari YouTube sambil nunggu Wi-Fi tetangga.

Tapi anehnya, kita tetap memaksakan metode impor tanpa adaptasi, lalu heran kenapa banyak murid “lulus tapi nggak bisa hidup dari musik”.



Borobudur: Bukan Cuma Batu, Tapi Bukti Peradaban Seni

Mari luruskan sejarah sebentar. Borobudur dibangun sekitar abad ke-8 hingga ke-9 Masehi. Bukan abad ke-7, tapi tetap saja: itu monumen seni tingkat tinggi.

Borobudur bukan bangunan asal jadi. Ia penuh ritme visual, proporsi, narasi berlapis, dan simbolisme yang kompleks. Relief-reliefnya seperti partitur visual—berurutan, mengalir, dan penuh makna.

Kalau nenek moyang kita bisa merancang mahakarya seni sebesar itu tanpa software desain, tanpa universitas luar negeri, dan tanpa sertifikat internasional, masa iya kita hari ini minder bikin metode pendidikan musik sendiri?



Lukisan Tertua di Dunia? Ternyata dari Sulawesi

Fakta yang sering luput dibahas: lukisan gua tertua di dunia yang diakui peneliti internasional berasal dari Sulawesi, tepatnya di kawasan Maros-Pangkep. Usianya diperkirakan lebih dari 45.000 tahun.

Artinya apa?

Artinya manusia Nusantara sudah mengenal ekspresi seni jauh sebelum banyak peradaban besar lain tercatat. Seni bukan barang baru bagi kita. Seni bukan barang impor.

Kalau seni visual saja sudah sedalam itu, hampir mustahil seni bunyi—musik—tidak berkembang. Hanya saja, ia tidak dikemas dalam not balok lima garis, jadi dianggap “tidak sah”.



Pendidikan Musik atau Bisnis Sertifikat?

Di titik ini, kita perlu jujur: banyak sekolah musik hari ini lebih fokus menjual label daripada membangun pemahaman.

Nama asing dijual. Sertifikat dijual. Janji karier dijual. Musik? Kadang cuma tempelan.

Ironinya, musik yang katanya “bahasa universal” justru:

  • mahal untuk dipelajari,

  • eksklusif untuk kalangan tertentu,

  • dan terasa jauh dari realitas sosial.

Akhirnya, pendidikan musik berubah fungsi: bukan alat pemberdayaan, tapi komoditas gaya hidup. Yang kenyang siapa? Ya tentu saja pihak-pihak yang pandai mengomersialisasi musik “seenak udelnya”.



Bagaimana Kalau Musik Dibangun Secara Gotong Royong?

Sekarang mari berandai-andai.

Bagaimana kalau metode pendidikan musik dikembangkan secara open science?

  • Praktisi berbagi pengalaman lapangan

  • Akademisi menyusun kerangka teorinya

  • Komunitas menguji dan mengkritisi

  • Semua orang bisa mengakses pengetahuan dasar musik secara affordable

Bukan berarti anti bisnis. Bukan berarti anti profesional. Tapi ilmunya terbuka, nilainya adil.

Bisnis tetap jalan, tapi tidak memonopoli pengetahuan. Musik kembali ke fungsinya: alat ekspresi, alat hidup, alat bertumbuh—bukan sekadar produk premium.



Tak Perlu Anti Barat, Tapi Jangan Minder Jadi Indonesia

Tulisan ini bukan ajakan membenci Barat atau Jepang. Bukan juga menolak metode luar negeri mentah-mentah. Yang perlu dikritik adalah mental inferior: merasa selalu harus meniru agar dianggap sah.

Kita bisa belajar dari luar, tapi membangun dari dalam. Kita bisa mengadaptasi, bukan mengkopi. Kita bisa menciptakan sistem pendidikan musik yang:

  • relevan dengan konteks Indonesia,

  • berpihak pada musisi,

  • dan tidak menjadikan seni sebagai barang mewah.

Karena kalau bangsa dengan sejarah seni setua ini terus merasa “kurang pantas” menciptakan metode sendiri, masalahnya bukan di musiknya—tapi di keberanian kita.

Dan mungkin, sudah waktunya anak bangsa berhenti jadi penonton di rumah sendiri.