Ada satu fenomena yang cukup menarik di dunia pendidikan seni—khususnya di jurusan musik. Di kelas-kelas yang secara resmi bernama Apresiasi Seni, mahasiswa justru sering terlihat paling kesulitan untuk… mengapresiasi seni itu sendiri.
Alih-alih menikmati, komentar yang muncul biasanya kritik pedas:
-
“Ah, mixing-nya kurang.”
-
“Aransemen biasa saja.”
-
“Secara konsep kurang kuat.”
Padahal kalau ditanya balik, “Kamu sendiri sudah bikin karya apa?” jawabannya sering sunyi.
Orang Biasa Justru Lebih Mudah Mengapresiasi
Ironisnya, orang-orang yang bukan lulusan seni—programmer, dokter, bahkan barista—sering lebih mudah menikmati karya seni. Mereka bisa mendengarkan lagu dan berkata sederhana: “Wah, ini enak.”
Tidak perlu teori panjang, tidak perlu analisis struktur akor. Mereka hanya merasakan.
Ini menimbulkan pertanyaan: apakah mahasiswa seni susah mengapresiasi karena taste-nya terlalu tinggi? Atau mungkin yang tinggi justru gengsinya?
Gelar Sarjana Seni Tidak Otomatis Membuat Mahir Mengapresiasi
Di sisi lain, banyak mahasiswa seni yang secara teknis belum banyak berkarya. Repertoar minim, pengalaman panggung sedikit, karya orisinal bisa dihitung jari. Namun kemampuan mengkritik karya orang lain sering sudah seperti profesor.
Mungkin ini efek dari pendidikan yang terlalu menekankan penilaian akademis daripada penciptaan nyata.
Aktivitas Organisasi dan Tugas Kuliah Jadi Fokus
Perjalanan menuju gelar sarjana seni kadang terlihat glamor di CV: menghadiri organisasi, nambah pengalaman, menghadiri acara, menjaga hubungan baik dengan dosen. Empat tahun berlalu, lahirlah gelar Sarjana Seni.
Sayangnya, gelar tidak otomatis membuat seseorang menjadi seniman. Apalagi membuatnya otomatis bisa mengapresiasi seni dengan tulus.
Apresiasi Seni adalah Kemampuan Menyentuh Hati
Apresiasi seni seharusnya adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan menghargai proses kreatif orang lain. Bukan sekadar mencari kekurangan, bukan juga lomba menunjukkan siapa paling paham teori.
Kadang, apresiasi yang paling jujur justru datang dari orang-orang yang tidak peduli istilah akademis. Mereka tidak sibuk mengukur progresi akor atau membedah struktur komposisi. Mereka hanya mendengarkan, dan jika menyentuh hati, mereka berkata: “Bagus.”
Paradoks Pendidikan Seni
Mungkin paradoks dunia pendidikan seni adalah: semakin lama belajar tentang seni, sebagian orang justru semakin lupa cara menikmatinya.
Padahal sebelum mengenal istilah counterpoint, modal interchange, atau extended harmony, kita semua pernah mendengarkan musik dengan sederhana: suka, ya suka.
Mungkin pelajaran Apresiasi Seni yang paling sulit sebenarnya bukan teori atau sejarah musik. Tapi belajar menurunkan ego, membuka telinga kembali, dan mengingat bahwa seni tidak selalu harus dipahami untuk bisa dinikmati.